07 Desember 2008

Mengejar Rating Yang Kian Seret

Harian Kompas Minggu : Bahkan sinetron pun sulit menembus rating 5. Inilah fenomena industri televisi swasta nasional satu-dua tahun terakhir ini.

Ketika televisi swasta nasional masih berjumlah lima buah (RCTI, SCTV, TPI, Indosiar, ANTV), sebuah acara bisa meraih rating belasan hingga puluhan. Menurut Direktur Program RCTI Harsiwi Achmad, Rabu (3/12), sinetron Si Doel Anak Sekolahan yang diputar di RCTI tahun 1990-an pernah mencapai rating 50, dengan audience share 80 persen atau mampu merebut 80 persen penonton dibandingkan dengan acara lain yang diputar pada jam tayang yang sama.
Rating setinggi itu mungkin tidak akan terulang lagi. Pasalnya, perolehan rating dari tahun ke tahun kian seret. Bahkan, setahun terakhir ini, kata Harsiwi, sebuah acara, termasuk sinetron, sulit menembus rating 5.

”Dulu, sinetron yang hanya mampu meraih rating 5 harus siap-siap ’dibunuh’. Sekarang, dapat rating 5 sudah bagus,” lanjut Harsiwi. Menurut dia, rating tertinggi yang diraih RCTI selama tahun 2008 adalah 8,3, dengan audience share 37 persen. Namun, rating tertinggi itu bukan diraih oleh acara reguler, melainkan siaran langsung pertandingan tinju Chris John versus Hiroyuki Enoki akhir Oktober lalu.

Seretnya rating juga terjadi pada televisi swasta nasional lainnya. Kepala Departemen Marketing PR Trans TV Hadiansyah, Kamis, mengatakan, tahun 2001, sebuah acara masih bisa menembus rating 10. Namun, sejak tahun 2007, untuk menembus rating 7 saja sulitnya minta ampun. Rating tertinggi acara reguler Trans TV saat ini adalah reality show Termehek-mehek, yakni antara 6 dan 7.

Apa yang menyebabkan rating seret? Harsiwi menunjuk persaingan antartelevisi yang kian ketat. ”Jumlah televisi jauh lebih banyak. Ada televisi nasional dan lokal. Itu membuat penonton terbagi ke banyak televisi. Artinya, rating-nya juga terbagi-bagi.”

Jenuh
Direktur Program SCTV Budi J Sutjiawan mengatakan, selain persaingan kian ketat, acara televisi sekarang kian seragam. Mengapa? Karena tiru-meniru program sudah dianggap lazim. ”Coba saja, ketika kami membuat acara yang bagus, tidak lama ditiru televisi lain,” ujar Budi, Kamis.

Hadiansyah menambahkan, contek-mencontek program itu sudah menjadi rahasia umum di industri televisi nasional. ”Kalau ada acara yang rating-nya bagus, televisi lain akan ’menghajar’-nya dengan membuat tayangan sejenis. Tujuannya agar acara itu tidak memimpin sendirian dan rating-nya bisa terbagi ke acara lain. Ini juga menjadi penyebab mengapa rating sebuah acara tidak pernah bisa tinggi lagi,” katanya.

Pernyataan Hadiansyah tersebut juga menjelaskan mengapa kreativitas industri televisi tidak banyak berkembang sejak televisi swasta bermunculan tahun 1990-an hingga sekarang. Kebanyakan sinetron dari dulu hingga sekarang ceritanya mirip-mirip.
Adegan utamanya masih seputar tangis-tangisan dan tampar- tamparan. Karakter tokoh dalam sinetron tidak lebih dari dua, yakni tokoh yang baiiiiiik sekali dengan tokoh yang jahaaaat sekali.
Acara lawakan pun masih sebatas memancing tawa dengan mengolok-olok kekurangan fisik orang lain.

Mengapa seperti itu? Karena kreativitas industri televisi nasional baru sebatas ”melayani” rating. Itu sebabnya, mereka tidak berani keluar terlalu jauh dari acara-acara yang, menurut rating, disukai mayoritas penonton.
Budi berpendapat, acara televisi yang seragam menjadi faktor lain mengapa rating televisi merosot belakangan ini. Dia menduga, sekarang ini sedang ada penurunan penonton televisi nasional. Mereka, katanya, kemungkinan berpindah sementara ke media alternatif hiburan seperti internet.

”Industri televisi memang begitu. Kalau ada acara yang benar- benar menarik, jumlah penonton akan naik. Kalau acara televisi sedang jelek-jelek, penonton akan turun,” lanjut Budi.
Agus Sudibyo, Deputi Direktur Yayasan SET—lembaga yang mendukung kebebasan media dan demokratisasi penyiaran— berpendapat, jumlah warga kelas menengah ke atas mulai memilih-milih acara televisi. ”Sekarang banyak keluarga kelas menengah atas yang enggan nonton televisi nasional. Mereka beralih ke internet atau televisi berbayar,” ujarnya, Rabu.
Menurut Agus, itu terjadi karena acara hiburan di televisi nasional umumnya dangkal, banyak mengandung kekerasan, dan tidak mendidik. Survei rating publik yang digelar SET pada Oktober 2008 memperlihatkan, 45,8 persen responden (kelas menengah) menganggap acara hiburan di televisi sangat buruk. Hanya 15,6 persen responden yang menilainya baik.

Acara hiburan dianggap mengandung kekerasan, berbahaya bagi anak, dan tidak memberi contoh perilaku yang baik. Sebaliknya, acara berita umumnya dianggap baik dan bermanfaat.
Agus memperkirakan, kalaupun ada penurunan jumlah penonton televisi nasional, itu baru terjadi di kelas menengah atas karena mereka memiliki alternatif media hiburan lain, seperti televisi berbayar dan internet. Untuk kelas bawah, jumlah penonton tidak banyak berubah.
Berbeda dari Budi dan Agus, Harsiwi berpendapat, jumlah penonton secara keseluruhan tidak berubah. Bisnis pun tidak terpengaruh penurunan rating. Iklan tetap tumbuh.

Memang, seseret apa pun rating—selama ini dialami semua televisi nasional—tidak menjadi masalah. Kalau dengan rating 5 sebuah acara sudah bisa bertengger di urutan satu, itu sudah cukup. Yang penting kan peringkatnya, bukan angkanya.

Read More ..

05 Desember 2008

Acara Kick Andy di Metro TV Dinyatakan Sebagai Program Berkualitas

Dari Kompas.com : Acara Kick Andy di Metro TV dinyatakan sebagai program televisi paling berkualitas, hasil riset rating publik II (Oktober 2008) yang dilakukan Yayasan SET bekerjasama dengan IJTI, Yayasan Tifa, dan Jaringan Masyarakat Pemerhati Televisi. Penelitian ini menunjukkan ada perbedaan antara program yang bernilai berkualitas dengan program ber- rating/share tinggi yang dikeluarkan AGB-Nielsen Media Research.

"Riset periode kedua ini melibatkan 220 kalangan terdidik di 11 kota sebagai responden/panelis. Dengan metode Peer Review Assessment, riset ini menjaring penilaian mereka secara umum terhadap kualitas program-program televisi, dan secara khusus terhadap program-program televisi pada periode tertentu yang ber-rating atau share tinggi," kata Koordinator Pelaksana Yayasan SET Agus Sudibyo, Rabu (3/12) di Jakarta. Dikatakan, riset yang bertujuan untuk memperkaya penelitian mengenai televisi di Indonesia, terutama pemirsa televisi yang selama ini didominasi oleh jumlah penonton acara televisi (rating), juga memberikan perbandingan antara program televisi yang paling banyak ditonton dengan program televisi yang dianggap berkualitas.

Riset rating publik yang dilakukan bukan untuk melihat berapa banyak suatu program ditonton oleh pemirsa, tetapi seberapa berkualitas suatu program.Hasil penelitian Oktober 2008, Kick Andy (Metro TV) sebagai program paling berkualitas berhasil meraih 35,4 % . Pada penelitian Maret 2008, Kick Andy sebagai program paling berkualitas meraih 47,1 %. Jika pada Maret 2008 Liputan 6 Petang (SCTV ) nomor dua berkualitas dengan 11,0 %, maka pada Oktober 2008, Liputan 6 Petang kualitasnya berada di peringkat IV dengan 3,3 %. Setelah Kick Andy, responden memilih Si Bolang (Trans 7) sebagai program berkualitas dengan 3,8 %. Disusul Apa Kabar Indonesia Malam (TvOne), Liputan 6 Petang (SCTV), Metro Hari Ini (Metro TV), dan Para Pencari Tuhan (SCTV).

Jika dibandingkan dengan program ber-share/rating tertinggi, versi AGB Nielsen Media Research, terdapat perbedaan, di mana Jihan meraih rating/share tertinggi, disusul Termehek-mehek, Suami-suami Takut Istri, Selembut Sutra, dan Cerita SMA.Dalam laporan penelitian setebal 41 halaman, juga dikemukakan secara detil program berkualitas berdasarkan program, seperti program berita, program talk show, dan program hiburan, yang hasilnya sebagai berikut.

Untuk kategori berita , program berkualitas secara berurutan adalah Liputan 6 Petang (SCTV) dengan 15,1 %, disusul Metro Hari Ini (Metro TV, 12,7 %), Reportase Sore (Trans TV, 8,0 %), Kabar Petang (TvOne, 7,5 %), Liputan 6 Siang (SCTV, 7,5 %), Seputar Indonesia (RCTI, 6,1 %), dan lainnya 39,6%).

Untuk program talkshow, yang paling berkualitas Kick Andy (Metro TV , 60,8%), disusul Oprah Winfrew Show (Metro TV, 10,4% ), Ceriwis (Trans TV, 4,7%), Dorce Show (Trans TV, 4,2%), Mario Teguh (Metro TV , 2,8%), dan lainnya (17,0%).

Sedangkan untuk program hiburan, yang paling berkualitas adalah Para Pencari Tuhan (SCTV, 43,4 persen), disusul OB (RCTI, 12,7%), Suami-suami Takut Istri (Trans TV, 4,7%), Aqso dan Madina (RCTI, 2,8%), Cerita SMA (RCTI, 1,4%), Jihan (Indosiar, 0,9%), Khanza (RCTI , 0,9%), dan lainnya (33,0%).

Penelitian Yayasan SET ini juga mengemukakan acara paling baik menurut sejumlah kategori, misalnya dalam hal menambah wawasan, dalam hal pengawasan, dalam hal meningkatkan empati sosial, dalam hal meningkatkan daya kritis, dalam hal memberikan model perilaku yang baik, dan dalam hal memberikan hiburan. Ketua Badan Pertimbangan Perfilman Nasional, Deddy Mizwar, menanggapi hasil penelitian itu mengakui ia tak paham rating dan metode penelitian untuk menilai program televisi. "Bagi saya, bagaimana membuat program yang bisa saya pertanggungjawabkan dunia-akhirat. Membuat yang bagus ada parameternya, tapi semua hanya asumsi-asumsi belaka," katanya.

Read More ..

04 Desember 2008

KPID Jabar Minta Klarifikasi Indosiar Soal Muslimah

KPID Jawa Barat meminta klarifikasi Indosiar terkait adegan kekerasan verbal maupun non verbal yang ada terdapat dalam tayangan sinetron Muslimah. Menurut Ketua KPID Jabar Dadang Rahmat Hidayat, adegan tersebut bertentangan dengan Pasal 28 poin 4 Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) KPI mengenai kekerasan.

Dalam pasal dan poin tersebut berbunyi bahwa, lembaga penyiaran dilarang menyajikan program yang dapat dipersepsikan mengagung-agungkan kekerasan atau menjustifikasi kekerasan sebagai hal yang lumrah dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami juga menerima banyak aduan dari masyarakat yang mengeluhkan adegan kekerasan tersebut yang terdapat dalam sinetron Muslimah. Aduan dari masyarakat tersebut merupakan kewajiban KPID untuk menampung, meneliti dan menindaklanjutinya. Makanya, kami meminta klarifikasi terkait hal itu kepada Indosiar,” jelas Dadang ketika dihubungi di Bandung.

Dalam surat klarifikasi tertanggal akhir bulan lalu, yang kemudian ditembuskan KPID ke KPI Pusat, menegaskan agar Indosiar untuk sesegera mungkin memberikan klarifikasinya kepada KPID Jabar. (KPI)

Read More ..

02 Desember 2008

Beberapa Pengaduan Masyarakat kepada KPI Pusat

Ini beberapa keluhan masyarakat tentang program TV yang mereka saksikan belakangan ini :

Saya merasa gerah dgn adanya sinetron yang kurang mendidik malah anak usia 5 tahun berani meniru ucapan yang tak pantas karna meniru sebuah sinetron dan begitu banyak juga anak SD yang mulai meniru adegan pacaran (M. Saini, Bali)

Tolong acara reality show seperti Termehek-mehek dan Asama manis cinta dihapuskan, karena itu merupakan rekayasa dan bukan kejadian sebenarnya. Sehingga telah terjadi penipuan terhadap pemirsa (T. Halim, Jakarta)

Banyak sekali yang tidak suka dengan sinetron2 kita sekarang,..karena saya yakin ini berakibat buruk pada pendidikan anak2,.. dari dialog2nya dan kekerasan yg ditayangkan, sgt tidak masuk akal...salah satunya sinetron \"MUSLIMAH\",... saya benci sekali dgn sinetron tersebut,.. tolong pihak kPI,.. memperhatikan sinetron2 di televisi...., semuanya tidak layak ditonton..... (Rury J., Jakarta)

saya sangat menghargai balasan dari KPI terhadap aduan saya dan saya berterima kasih atas perhatiannya tersebut. tolong agar menertibkan film2 laga yang ada di indosiar,, film tersebut dari pagi, siang, sore dan malam selalu tayang, bahkan di jam-jam anak menonton, ini meresahkan,. karena tayangan tersebut sangat berdampak buruk. karena menontonkan hal-hal maksiat berupa kyai berubah jadi naga, manusia jadi ular, raksasa, hal ini berdampak buruk bagi anak karena anak akan tertarik hal-hal yang berbau klenik. terima kasih atas perhatiannya, nama tayangan tersebut saya tidak hapal, tapi hampir semua kategori sinetron laga di indosiar semua seperti itu adanya (Redif, Jatim)

Read More ..

TVRI Minta Maaf Terkait Status Politik Presenter Forum Indonesia Raya

TVRI meminta maaf pada KPI Pusat atas kelalaian mereka menampilkan salah satu pembawa acara dalam program Forum Indonesia Raya yang ternyata merupakan salah satu pengurus partai politik peserta Pemilu 2009 mendatang.

TVRI juga menyatakan terima kasih kepada KPI Pusat atas teguran yang diberikan kepada mereka beberapa waktu terkait persoalan tersebut. TVRI dalam penjelasannya menyatakan perekrutan pembawa acara yang dipersoalan tersebut awalnya dilakukan pada 2006 lalu. Pada saat itu, pembawa acara tersebut masih berstatus sebagai artis sinetron yang netral. Namun dalam perkembangnya, pembawa acara tersebut ternyata telah menjadi salah satu pengurus partai politik yang sama sekali tidak diketahui TVRI.

Menurut penjelasan TVRI dalam surat tanggapan kepada KPI Pusat beberapa waktu lalu menjelaskan, pihak production house (PH) yang merupakan mitra Departemen Dalam Negeri (Depdagri) pihak yang bekerjasama dengan TVRI dalam penayangan program Forum Indonesia Raya, sama sekali tidak pernah menginformasikan perubahan status politik pembawa acara tersebut kepada mereka (TVRI).

Secara tegas TVRI menyatakan sejak hari Minggu tanggal 23 November 2008, pembawa acara program tersebut sudah tidak lagi menjadi presenter program acara Forum Indonesia Raya. TVRI juga berharap agar kejadian serupa tidak terulang kembali. (KPI)

Read More ..

01 Desember 2008

Masa Penghentian Empat Mata Segera Berakhir

Terhitung mulai 3 Desember 2008, program tayangan Empat Mata Trans 7 yang dihentikan untuk sementara oleh KPI pada 3 November lalu, diperbolehkan kembali siaran ke masyarakat. Hal itu tertuang dalam surat pemberitahuan KPI Pusat yang ditandatangani oleh wakil Ketua KPI Pusat Fetty Fajriati kepada Dirut Trans 7, Jumat (28/11).

Dalam surat tersebut dijelaskan KPI Pusat juga meminta beberapa ketentuan kepada Empat Mata Trans 7 untuk tidak menampilkan kekerasan secara verbal maupun non verbal. KPI Pusat juga meminta kepada Empat Mata untuk tidak menyajikan lelucon dan adegan yang mengandung unsur seks. Selain itu, ketentuan yang lain yang diminta oleh KPI Pusat kepada Empat Mata Trans 7 yakni untuk tidak melecehkan narasumber-narasumber yang terlibat dalam acara tersebut.

KPI Pusat juga berharap kepada program ini nantinya agar lebih baik sesuai dengan acuan yang ada alam P3 dan SPS KPI. Menurut informasi yang ada diberbagi media, kemungkinan program tayangan Empat Mata akan berubah nama menjadi Bukan Empat Mata dengan pembawa acara yang masih sama yakni Tukul Arwana. Rencananya, penayangan Bukan Empat Mata akan dilakukan pada malam hari ini.

Read More ..