Tampilkan postingan dengan label SCTV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SCTV. Tampilkan semua postingan

02 November 2010

SCTV Siap perbaiki materi program Uya Emang Kuya

Akhirnya PT. Surya Citra Televisi (SCTV) memenuhi panggilan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah pada Jum’at, 30 Oktober terkait undangan klarifikasi atas dugaan pelanggaran acara Uya Emang Kuya. Pihak manajemen SCTV mewakilkan Ayi Farid Wajdi, SS selaku Acquition Support Manager yang membidangi program tersebut sedangkan KPID diwakili Zainal Abidin Petir selaku divisi pengawasan Isi siaran.

Zainal menjelaskan bahwa dalam klarifikasinya pihak SCTV telah menyampaikan permohonan maaf atas beberapa tayangan pada acara hipnotis Kuya Emang Kuya yang dianggap tidak mendidik, membuka aib, dan mengungkap permasalahan remaja khususnya pacaran yang tidak sehat. ” Kami telah meminta kepada SCTV untuk segera memperbaiki conten acara tersebut. Kami tidak butuh permohonan maaf saja tapi bagaimana ke depan tayangan itu bermanfaat dan ada nilai edukasi untuk masyarakat Jawa Tengah, lebih khusus untuk anak-anak dan remaja,” ungkap Zainal.

Uya Emang Kuya, jelas Zainal, merupakan program acara outhouse yang dibeli dari rumah produksi (PH) Millenium Visitama bukan produksi sendiri. Dalam krarifikasinya Uya adalah nama dari pembawa acara (host) sedangkan Kuya merupakan bahasa gaul Jakarta yang berari usil atau nyleneh. Konsep awal acara tersebut bertemakan street magic, yang dibumbui hipnotis namun dalam perjalanannya diakui pihak manajemen SCTV lebih dominan hipnotisnya. Ditambahkan bahwa acara tersebut bukan rekayasa tapi benar-benar fakta dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

”Kalau memang bukan rekayasa dan bisa dipertanggungjawabkan mbok ya mengambil obyek atau masalah yang bisa menggugah empati, simpati, maupun control social, tanpa mengurangi nilai hiburan yang menjadi konsep awal acara tersebut,” ungkap Zainal. Banyak sekali materi , kata Zainal, yang bermanfaat untuk masyarakat sebagai bentuk kontrol sosial semisal Uya Kuya datang ke wilayah Semarang Utara kemudian menghipnotis warga yang sudah berpuluh tahun halaman rumahnya tidak pernah kering lantaran (banjir) rob.” Coba mereka unek-uneknya seperti apa, jangan mengungkap pacaran remaja, cekcok remaja dan lainnya. Tolong orang-orang yang sedang ngurus KTP, Passport, SIM, antrian rumah sakit, dan pelayanan umum lainnya dihipnotis seperti apa unek-uneknya,” tandas Zainal.

Sebelumnya KPID Jateng telah menjatuhkan sanksi adminstratif berupa teguran tertulis kepada SCTV, Trans 7, Indosiar, Cakra Semarang TV, dan radio publik lokal Pemkab Boyolali, Merapi FM karena diduga melakukan pelanggaran Peraturan KPI No 03 Tahun 2009 tentang Standar Program Siaran (SPS). (KPID Jateng)

Read More ..

07 Juli 2010

Diduga Lecehkan Lafal Adzan, SCTV Dijatuhi Sanksi

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Tengah menjatuhkan sanksi administratif berupa teguran tertulis kepada PT. Surya Citra Televisi (SCTV). Sanksi itu terkait dugaan pelanggaran pelecehan serta tidak menghormati nilai-nilai agama, sebagaimana pasal 7 Peraturan KPI N0. 03 Tahun 2009 tentang Standar Program Siaran (SPS), serta pasal 36 ayat (6) UU 32 tahun 2002 tentang Penyiaran bahwa isi siaran dilarang memperolokkan, merendahkan, melecehkan dan/atau mengabaikan nilai- nilai agama, martabat manusia Indonesia atau merusak hubungan internasional.

Menurut Zainal Abidin Petir, Divisi pengawasan isi siaran KPID Jateng, pelanggaran yang dilakukan SCTV sangat serius sehingga KPID memanggil pihak manajemen untuk dimintai keterangan pada Jumat, 02 Juli 2010. Selain itu SCTV dimohon menyampaikan permohonan maaf kepada umat Islam di Jawa Tengah khususnya, dan di seluruh Indonesia pada umumnya.

Zainal menjelaskan pelecehan maupun tindakan merendahkan agama terjadi Minggu, 27 Juni 2010 ketika SCTV mengumandangkan adzan magrib, di mana di setiap lafal adzan diiringi background suara maupun gambar berbagai jenis iklan. ” Sungguh ini pelecehan yang tidak bisa ditolerir. Bayangkan, ketika berkumandang lafal Allahu Akbar yang bermakna Allah Maha Besar , muncul background iklan orang yang sedang bersin dan batuk sampai makanan yang ada di depannya muncrat alias kocar-kacir kemudian disuruh minum salah satu produk obat batuk,” kata Zainal.

Pada lafal asyhadu alla ilaha illallah dengan background iklan permen wangi untuk bibir sariawan, panas dalam, dan tenggorokan kering. Sedangkan lafal asyhadu anna Muhammadar Rasulullah ada background iklan anak kecil batuk dan pilek serta panas dalam. Yang lebih menyakitkan, tambah Zainal Petir, tatkala lafal hayya 'alash sholah berkumandang muncul orang garuk-garuk gatal sekujur tubuh dan diperlihatkan penyakit kulit sejenis panu. Kemudian lafal hayya 'alal falah ada iklan pembersih muka dengan model wanita cantik sambil kerlingkan mata. Begitu pula lafal Allahu Akbar Allahu Akbar muncul model iklan wanita cantik tawarkan obat La ilaha illallah ada background iklan obat masuk angin kemudian ada suara orang glegekan/ bersendawa. (KPID Jateng)

Read More ..

19 Februari 2009

Ada Apa Dengan SCTV??

Kami kutipkan tulisan yang beredar di milis belum lama ini. Berikut tulisannya :

Ada kabar buruk soal SCTV. Don Bosco yang sebenarnya belum resmi keluar dari Komisi Penyiaran Indonesia kini menjadi pimpinan divisi pengembangan program berita untuk SCTV dan anak-anak perusahaan SCM.

Dengan segera efeknya terasa. Rosi Silalahi ditendang ke atas menjadi penasehat perusahaan. Pemred SCTV diambilalih oleh sang owner, Fofo Sariatmadja. Bayu Setiono sudah diperintahkan tidak bersiaran karena memprotes perubahan mencurigakan ini. Beberapa nama kabarnya sudah menyatakan akan mengundurkan diri.

Marilah kita berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Hampir pasti Don Bosco dimasukkan karena alasan politik. Dia adalah anggota KPI, yang sejak awal memang sudah mencurigakan. Dia masuk ke KPI karena diutus ATVSI.

Sejak Don Bosco dan Iwan Uyun masuk, ditambah lagi dengan kaum oportunis murni seperti Bimo Nugroho dan Sasa Djuarsa, KPI menjelma menjadi kumpulan pesuruh yang sekadar menjalankan perintah industri dan pemerintah.

KPI sekarang sudah mampus. Bimo saja sebanarnya sudah melamar ke BRTI, tapi sayangnya tak lolos seleksi. Sekarang, setahun sebelum masa jabatannya di KPU usai, Don sudah loncat ke SCTV.

Kenapa sekarang? Kebetulan? Get real, man!
Jawaban paling mudah adalah karena menjelang pemilu. Rosi, Bayu dkk saya rasa terlalu tidak bisa dikontrol dan diprediksi. Mereka terlalu independen. Pengaruh Don sudah kelihatan kok. Lihat saja acara Barometer Rabu malam. Acara yang sebelumnya diisi oleh hal-hal substanstif dan serius itu, kemarin berubah menjadi dangkal. Isunya soal Ponari dengan yang dibahas dengan cara lemot. Aku tanya ke produsernya: "Kok bisa begitu?" Jawabnya, ia tidak lagi dilibatkan. Don yang turun tangan menentukan sendiri isi program dan mengganti topik yang sebelumnya diputuskan
yakni soal Hillary Clinton.

Don akan mengubah gaya pemberitaan SCTV, menjadi lebih soft dan entertaining. Tampilan presenter akan menjadi penting. Siapapun yang sering baca teks-teks ekonomi politik kritis yang memperingatkan bahwa campur tangan modal dalam media itu berbahaya bagi demokrasi, sekarang menemukannya secara kasat mata di Don Bosco
dan SCTV. Don itu bukan mastermind. Dia cuma operator.

Pertanyaannya: siapa?

Siapapun yang peduli dengan kebebasan pers, perlu concern dengan perkembangan SCTV ini.

Read More ..