Jum'at, pukul 12.40-an, anak saya menonton TV lokal Spacetoon. Saya ikut memperhatikan. Ada acara pendidikan berlogo TVE dan "Learning For All TV Series". Presentasi acara itu menggunakan kartun yang kaku dan berbahasa Inggris dengan teks Indonesia. Walaupun itu hanya salah satu segmen dalam mata acara "Televisi Edukasi" yang memang sering saya lihat dibeberapa stasiun televisi, menurut saya terlalu sulit bagi anak-anak. Tidak menarik. Njelimet. Pertama, bahasa Inggris yang digunakan. Kedua, gerakan kartunnya kaku dan tidak dikenal (Tidak seperti Dora atau Donald Duck). Ketiga, grafis-grafis pelajaran (kebetulan saya yang lihat adalah pelajaran matematik) yang membosankan seperti di tempat kursus. Wah..., dimana unsur hiburannya?
Saya khawatir, proyek Televisi Edukasi yang tujuannya bagus, tapi tidak mendapat tempat disegmennya. Itu hanya buang-buang uang Depdiknas dan airtime TV itu sendiri. Terbukti, anak saya tidak mau belajar dari acara itu, dia lebih memilih tidur.
Membuat proyek Televisi Edukasi, harus dimulai dari niat yang baik, bukan dari niat yang hanya mencari keuntungan atau proyek semata. Karena bagi yang mendapatkan proyek tersebut, asalkan sudah ditayangankan di televisi, dia pikir pekerjaannya sudah selesai. Tidak peduli ada yang menonton atau ada yang tertarik dengan acara tersebut.
Lebih baik uang tersebut disumbangkan ke sekolah-sekolah secara nyata. Bangun gedung-gedung SD yang sudah retak, bocor dan mau ambruk. Jangan ke program televisi dulu. Proyek Televisi Edukasi hanya bisa dikerjakan apabila sudah ada pihak yang dapat dipercaya untuk membuat presentasi program yang menarik, menghibur dan yakin akan mendapatkan jumlah penonton yang banyak sesuai target audience-nya. Orang-orang seperti Imam Prasodjo, Prajoto atau kak Seto mungkin lebih pas bila diajak memikirkan proyek tersebut. Jika belum ada yang peduli, lebih baik ditunda dulu sampai ada. Terima kasih.
08 Februari 2008
Menonton TV Education di Spacetoon
Menonton TV Lokal di HomeCable
Selamat kepada beberapa TV lokal yang kini sudah dapat disaksikan di HomeCable. Saya kebetulan berlangganan HomeCable dari First Media, belum lama ini menemukan siaran televisi lokal seperti : Jak-TV, O'Channel, JTV, Spacetoon, CahayaTV Banten dan BaliTV. Menarik juga sebagai tontonan alternatif.
Untuk First Media, saya ucapakan salut dan semoga bisa ditampilkan juga TV lokal lainnya, seperti BandungTV, JogyaTV, ElshintaTV, RiauTV, dll. Agar para pelanggan HomeCable dapat melihat langsung budaya, peluang usaha, informasi dan hal-hal menarik dari daerah setempat.
Untuk stasiun televisi lokal yang ditayangkan di HomeCable, hendaknya memperkaya isi siaran tentang budaya dan pariwisata daerahnya lebih banyak, layaknya majalah atau koran lokal. Saya sebagai penonton TV lokal tidak mengharapkan adanya sinetron, video musik, gossip show, berita nasional dan internasional, film, serial atau acara-acara yang sudah sangat banyak bisa ditemui di televisi nasional. Perkuat materi-materi kedaerahan yang kreatif. Itu salah satu tujuan content tv lokal kan? Dimana tv nasional tidak dapat meng-explore-nya terlalu banyak.
Terima kasih sekali lagi, ini malah satu contoh sistem berjaringan yang lebih nyata bagi saya.
Salam dari Moderator DuniaTV
07 Februari 2008
Menonton Toleransi di Layar Televisi
Dalam hal saling bertoleransi terhadap perbedaan agama dan keyakinan, ditahun-tahun belakangan ini, saya menilainya semakin baik. Dalam hal ini, peran media televisi sangat penting. Kita tidak hanya dapat menonton acara-acara Ramadhan yang disambung dengan Idul Fitri, tetapi juga acara-acara Natal dari berbagai daerah, Nyepi, dll. Potret toleransi disebarkan dan diterima baik oleh masyarakat, ini merupakan tanda-tanda bagus bagi umat manusia di bumi Indonesia. Rukun dan saling menghargai adalah cikal bakal keadaan dan keamanan yang makin kondusif. Begitu juga saat Imlek tiba, semua stasiun televisi menayangkan acara-acara menyambut imlek, memperkenalkan tradisi tionghoa dengan penuh kegembiraan dan kemeriahannya. Sungguh bahagia saya melihat perkembangan tolenransi beragama dan keyakinan di Indonesia.
Saya juga melihat keadaan di sana-sini, seperti banyak orang yang bukan keturunan Tionghoa ikut membeli dan menikmati kue keranjang (kue khas imlek). Orang-orang non tionghoa yang bertemu kawan keturuan tionghoa, juga mengucapkan selamat imlek. Vihara membagikan sedekah kepada orang-orang miskin disekitarnya. Artis-artis keturunan tionghoa tanpa ragu menceritakan apa arti imlek dan ritual-ritual yang biasa dilakukannya pada saat imlek. Itu semua terekam dan ditayangkan di layar televisi.
Selamat atas perkembangan toleransi di Indonesia. Televisi sangat membantu dalam memberikan pencerahan dan menularkan kebaikan bagi sesama manusia di bumi ini.
Gong Xi Fat Chai!
06 Februari 2008
Menonton BANJIR di Televisi
Banjir besar, yang katanya 5 tahun sekali, sekarang bisa terjadi beberapa kali dalam setahun. Bukan hanya di Jakarta, tetapi juga diberbagai daerah, yang kadang dibarengi hujan petir, pohon tumbang dan tanah longsor. Televisi mempunyai peran besar dalam mendistribusikan berita bencana alam atau banjir seperti itu. Mereka (crew tv) seperti mendapatkan berkah peliputan atas penderitaan orang lain yang menjadi korban banjir. Wajah lugu pembaca berita tanpa empathi sering kali kita lihat dilayar televisi mengumbar senyum tanpa seolah-olah tidak tahu bagaimana rasanya kebanjiran, kehilangan harta benda atau kehilangan nyawa keluarga.
Tapi bukan berarti para pembaca berita harus menangis tersedu-sedu dilayar televisi ketika membacakan berita-berita kebanjiran. Biasanya, jika hati kecil kita merasa prihatin dan sedih melihat penderitaan orang lain, maka secara otomatis otak kita memerintahkan wajah kita untuk segera berubah. Itu hatus dari hati! Jika tidak, ya berpura-pura prihatin lah dilayar televisi daripada senyum dan ketawa kecil yang bisa menyakitkan hati orang lain..
Upaya dari dalam studio televisi memang harus dilakukan melalui wajah para pembaca berita yang menunjukan keprihatinan. Hal tersebut juga harus dibarengi dengan upaya diluar studio televisi. Saya mendengar reporter Radio Elshinta yang melaporkan kejadian banjir sambil memberikan bantuan kepedulian berupa air minum, nasi bungkus, dll. Saya pikir hal itu juga bisa dilakukan oleh reporter televisi, sambil mengambil gambar ya sambil memberikan bantuan sumbangan. Kenapa Tidak? Jika ada hal yang bagus dari media lain, kita tiru saja, tidak perlu gengsi! Toh itu untuk kepentingan audience para stasiun televisi juga kan? Terima kasih atas perhatiannya. Salam.
01 Februari 2008
Halo Pengguna InGO Mobile
Selamat datang di Dunia TV kepada Anda yang mengakses blog ini melalui program InGO! Semoga pemikiran, analisa, opini dan gagasan yang tertulis di blog ini dapat menjadi referensi bagi perkembangan dunia televisi kita. Untuk memberikan komentar dari tulisan-tulisan di blog ini, selengkapnya Anda dapat mengakses Dunia TV melalui : http://duniatv.blogspot.com/ Sekali lagi terima kasih. Salam...
Read More ..Konvergensi Siaran Digital Untuk Apa dan Siapa?
Konvergensi adalah perpindahan mode siaran dari analog ke digital. Asalkan kita masih tetap dapat mengakses siaran analog, saya pikir tidak masalah. Cuma saya punya pikiran iseng aja, untuk siapa siaran digital itu nantinya? Apakah untuk masyarakat luas atau kalangan terbatas? Lalu apa tujuan siaran digital itu? Apakah karena tuntutan perkembangan teknologi yang wajib bagi setiap negara atau hanya karena gengsi? Dan yang lebih penting lagi, apa isi (content) dari siaran digital itu? Apakah isinya sampah yang tidak laris lagi di siaran analog (TV dan Radio teresterial) atau acara yang disesuaikan dengan model media baru tersebut? Belum lagi kemampuan masyarakat yang masih terbatas jika harus mengganti seluruh receiver analognya ke digital.
Yang jelas, apa pun tujuan dan alasan siaran digital yang akan diterapkan di tanah air kita, hendaknya dapat memberikan manfaat yang terbaik bagi masyarakat luas. Ujian terberat sebetulnya berada ditangan industri yang akan mengelola siaran digital tersebut, entah pihak swasta atau pemerintah. Karena kelompok orang yang dapat mengaksesnya terbatas, maka kemungkinan tarif yang dikenakan kepada masyarakat pengguna atau pemasang iklan menjadi sangat mahal. Jika pihak industri hanya memikirkan keuntungan (biasanya pengusaha tidak akan mengambil keputusan yang merugi), memang lebih baik tidak ikut-ikutan berinvestasi di pasar siaran digital, tetapi itu akan membuat kemajuan teknologi dan kreatifitas content di Indonesia menjadi tersendat.
Lantas sikap seperti apa yang mesti kita terapkan terhadap siaran digital?
1. Tetap harus dikembangkan sebagai bagian dari eksperimen teknologi canggih, namun ini harus diawali oleh pemerintah dan pihak swasta, yang bersama-sama menerapkan konsep seperti halnya program CSR (Corporate Social Responsibility), namun ini mungkin bukan untuk sosial, tetapi semacam CHDR (Corporate Hightech Development Responsibility). Dengan demikian, karena cost yang dikeluarkan oleh pihak swasta hanya setengahnya (setengahnya lagi dari Pemerintah atau Subsidi), maka kecanggihan siaran digital itu dapat diakses oleh masyarakat yang lebih luas. Akan lebih bagus lagi jika peralatan siaran digital itu juga merupakan sumbangan dari pembuat alatnya, mereka boleh berpromosi pada program yang akan dikembangkan nanti.
2. Membuat kelompok kerja kreatif yang akan men-design content dari siaran digital (radio, televisi, mobile, dll.) yang nantinya akan membuat demo program atau konsep siaran digital sambil mencari peluang sponsorship atas program tersebut.
3. Jangan malu untuk terus belajar dari negara-negara yang telah sukses menerpakan konvergensi siaran digital tersebut.
Semoga pemikiran diatas dapat memberikan masukan dari sekian pemikiran brilliant kawan-kawan di industri media elektronik yang telah ada sebelumnya.
Salam,
Moderator Dunia TV.