08 Januari 2010

Momen Piala Dunia, Produsen TV Berlomba di 3D

Tak hanya Sony yang akan menghadirkan pertandingan Piala Dunia 2010 dalam format 3D (tiga dimensi). LG dan Samsung pun diprediksi akan mengajak para penonton 'terjun' langsung menyaksikan Piala Dunia 2010.Di ajang Consumer Electronics Show di Las Vegas, Sony, LG dan Samsung memamerkan produk terbaru mereka, yaitu televisi 3D. Produk ini disebut-sebut akan segera hadir di AS dan Inggris dalam waktu dekat.Para produsen TV tersebut agaknya akan memanfaatkan momen Piala Dunia 2010 untuk memperkenalkan TV 3D mereka. Sejauh ini, memang baru Sony yang mengumumkan secara resmi akan menyiarkan Piala Dunia 2010 3D. Sejak Desember silam Sony telah mengumumkan bahwa pihaknya telah mendapatkan hak eksklusif untuk merekam dan menghadirkan pertandingan Piala Dunia 2010 dengan teknologi 3D.Memang tidak semua orang bisa menikmati tayangan tersebut. Pasalnya, Piala Dunia versi 3D yang dihelat di Afrika Selatan ini tidak akan disiarkan untuk televisi di rumah melainkan hanya bisa disaksikan di booth acara FIFA di Berlin, London, Mexico, Paris, Rio de Janeiro, Roma dan Sydney pada Juni dan Juli 2010.ESPN, salah satu saluran olahraga terbesar di dunia menyebutkan akan mendukung dengan merekam 25 pertandingan Piala Dunia 2010 dalam format 3D.Namun masih belum bisa dipastikan, apakah siaran 3D ESPN tersebut akan bisa dilihat oleh penonton di luar AS dan Inggris atau tidak. Namun ESPN mengisyaratkan, format 3D Piala Dunia 2010 nampaknya hanya tersedia bagi penonton di dua wilayah tersebut. Demikian keterangan yang dikutip dari Telegraph, Rabu (6/1/2010).Konten 3D menjadi kian populer selama kurun waktu 2009 hingga sekarang, ditandai dengan film-film 3D populer seperti Avatar.Teknologi 3D diklaim menawarkan hal berbeda dari menonton biasa. Dalam siaran pertandingan Piala Dunia 2010 mendatang, penonton akan seolah berada langsung di lapangan hijau dan mendapatkan pengalaman menonton yang lebih seru. (okezone.com)

Read More ..

07 Januari 2010

Menkominfo: KPI Harus Menindak Sinetron yang Tidak Mendidik

Hampir setiap hari kita disuguhkan tayangan sinetron yang di putar oleh beberapa stasiun TV swasta. Bahkan ada stasiun TV, 75% menayangkan acaranya berupa sinetron.
Dengan alur cerita yang bervariasi, mulai dari kehidupan rumah tangga hingga cerita cinta ABG yang tidak layak ditonton anak-anak. Hampir semua tayangan itu dinilai tidak mendidik, karena berpotensi merusak karakter bangsa.
Maraknya tayangan yang dinilai dapat merusak karakter bangsa tersebut membuat Menkominfo Tifatul Sembiring mendesak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) agar segera bertindak tegas terhadap sejumlah stasiun televisi.
Pihaknya telah meminta kepada sejumlah pengelola televisi swasta untuk mengevaluasi kembali program tayangan yang dapat merusak karakter bangsa itu.
Memang, harus diakui bahwa perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di Indonesia berkembang sangat pesat.
Namun, tidak semuanya baik, bahkan bisa merusak. Berdasarkan survei rating, pemirsa televisi Indonesia menempati posisi tertinggi dibandingkan Amerika Serikat, hal ini bisa dilihat dari lamanya durasi acara televisi yang ditonton.
Di Amerika, orang menonton televisi paling lama sekitar empat jam. Kalau di Indonesia bisa mencapai 4,5 jam. Kecenderungan ini menunjukkan bahwa tingginya tingkat serapan masyarakat dari tayangan televisi didominasi oleh hiburan.
Di sisi lain, pihak stasiun TV swasta diminta untuk mempertimbangkan kembali penayangan acara-acara (film/sinetron) yang dinilai tidak mendidik.
Karena seperti yang kita ketahui bahwa penayangan acara itu lebih banyak mempertontonkan hal-hal yang sangat bertentangan dengan budaya kita yang menjunjung tinggi kesopanan, misalnya adegan kekerasan.
Tayangan sinetron di televisi kita semakin tidak bernilai, kecuali hiburan murahan. Seharusnya para pembuat sinetron membuat sinetron yang memiliki aspek edukasi dan mengedepankan norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Jadi jangan hanya mengejar rating saja, namun juga harus memperhatikan nilai-nilai dan etika yang berlaku di negara kita. (berbagai sumber)

Read More ..

05 Januari 2010

KPID Jatim: Tiga Televisi Jakarta Mesti Segera Buat Siaran Lokal

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Provinsi Jawa Timur (Jatim), memperingatkan tiga televisi swasta yang bersiaran secara nasional untuk segera membuat siaran lokal.
“Semua televisi swasta nasional sudah membuat siaran lokal, tinggal tiga yang belum, yakni Trans TV, Trans 7, dan Global TV,” kata Ketua KPID Jatim, Fajar Arifianto Isnugroho, di Surabaya, Minggu (3/1).
Menurut Fajar, dua televisi swasta nasional yang bersiaran lokal sesuai tenggat waktu yang diberikan KPID Jatim pada 28 Desember 2009 adalah ANTV dan TV One, sementara yang lain, seperti RCTI, SCTV, Indosiar, Metro TV, dan TPI sudah lebih dulu.
“Kami sangat mengapresiasi ANTV dan TV One yang sudah bersiaran lokal sesuai komitmen bersama, sedangkan untuk tiga televisi nasional yang belum, kami harapkan Januari ini sudah melaksanakannya,” kata mantan koresponden stasiun televisi swasta nasional itu.
Demikian juga dengan pembentukan badan hukum lokal, semua televisi swasta nasional yang berjumlah 10 itu sudah menyanggupinya. “Untuk badan hukum di Surabaya mereka, menyanggupinya bulan ini, sedangkan untuk daerah lainnya, yakni Malang, Madiun, Kediri, Pacitan, Bojonegoro, Jember, Situbondo, Banyuwangi, Madura, dan Trenggalek, mereka akan menyesuaikan,” papar Fajar.
Sistem Stasiun Berjaringan dengan kewajiban bersiaran lokal dan pembentukan badan hukum lokal itu, sesuai tenggat waktu pada 28 Desember 2009, menurut dia, telah diatur dalam Peraturan Menteri (Permen) Kominfo Nomor 43 Tahun 2009.
Dalam Permen itu disebutkan, setiap televisi swasta nasional wajib menyiarkan tayangan lokal minimal 10 persen dari total jam siaran nasional. “Sebanyak 30 persen dari siaran lokal itu harus ditayangkan pada saat ‘prime time’ (jam utama yang biasanya ditonton banyak orang). Jadi tayangan lokal itu tidak sembarangan ditayangkan,” ujar Fajar. (Harian Surya)

Read More ..

04 Januari 2010

13,3 Persen Tayangan Televisi Merusak Moral

Tayangan televisi saat ini dinilai hanya mementingkan nilai komersil, tanpa memikirkan nilai edukasi. Karenanya, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) bersama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akan melakukan pengawasan ketat terhadap siaran-siaran televisi saat ini.“Berdasarkan hasil survei, 13,3 persen atau 10 dari 75 tayangan televisi di Indonesia bermasalah. Tayangan itu dinilai dapat merusak moral bangsa jika terus-menerus dipertontonkan kepada masyarakat,” kata Menkominfo Ir Tifatul Sembiring saat bersilaturahim dengan Dinas Kominfo Sumut di Hotel Grand Angkasa Jalan Sutomo Medan, Sabtu (2/1). Hadir dalam acara itu Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pudjo Nugroho dan Kadis Kominfo Pemprov Sumut Drs Eddy Syofian MAP. Tifatul mengungkapkan, untuk mengantisipasi agar moral bangsa tak dirusak oleh tayangan televisi yang tak mendidik tersebut, Depkominfo akan melakukan pembicaraan dengan para pemilik stasiun televisi di Indonesia. “Kita minta dan harapkan KPI berani. Karena selama ini kita mengerti bahwa televisi swasta berorientasi komersil. Untuk itu, mereka selalu melakukan hal sensional untuk ditampilkan ke publik. Agar masing-masing memiliki daya tarik. Tapi ini harus dikontrol,” tegasnya. Ketua MUI Kota Medan, Prof Muhamamd Hatta mewakili Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sumatera Utara di sela-sela acara mengatakan, adapun di antara acara tayangan televisi yang tidak layak dan dapat merusak moral bangsa seperti tayangan infotainmen, reality show, yang menampilkan cerita-cerita yang tak senonoh, film-film yang menamapakkan aurat perempuan dan cerita yang membongkar aib seseorang. Hatta menilai, tayangan-tayangan televisi tersebut tak memiliki kualitas, malah dikhawatirkan akan berdampak pada moralitas bangsa. “Sedangkan produksi dalam negeri kita saja seperti sinetron sangat buruk dan parah sekali. Tayangan yang disuguhi tidak berkualitas. Bagaimana membangun karakter bangsa dengan tayangan itu. Karena lebih banyak menceritakan soal mistik, perselingkungan dan aib orang. Inikan akan mengkikis budaya timur kita,” cetusnya. (Riau Pos)

Read More ..

01 Januari 2010

Trend Televisi Tahun 2010

Diawal tahun ini, jika Anda mampir ke toko-toko elektronik, Anda bisa melihat begitu banyak model televisi dengan berbagai teknologi yang canggih. Mulai dari televisi tabung, LCD, LED, sampai plasma. Lantas bagaimana dengan 2010 ini?

Pakar mengatakan bahwa dunia teknologi televisi tak akan berhenti berinovasi dan menawarkan teknologi-teknologi baru pada tahun depan. Inilah sepuluh tren yang bakal meramaikan industri televisi pada tahun depan.

Televisi LCD dengan cahaya latar LED
Selama ini cahaya latar televisi didominasi CCFL atau panel lampu pijar. Namun, teknologi lama ini lebih boros listrik ketimbang LED. Di samping itu, kedalaman cahaya LED lebih tinggi serta lebih ramah lingkungan ketimbang CCFL. Satu-satunya masalah adalah harganya masih tinggi. Namun, pakar menilai tahun depan harga televisi LED akan turun bersamaan dengan naiknya permintaan dan lebih banyak vendor yang masuk ke pasar itu.

Angka Refresh 240 Hz.
Televisi berdefinisi tinggi awalnya memiliki angka refresh 60 Hz. Kemudian lahir 120 Hz. Sony kemudian meluncurkan versi 240 Hz, yakni Bravia XBR9, yang diikuti vendor lain, seperti Samsung dan LG. Angka 240 Hz sebetulnya kontroversial lantaran perbedaannya dengan 120 Hz tak terlalu kentara. Ia hanya bisa sedikit terdeteksi bila televisi menampilkan tayangan kecepatan tinggi, seperti video game atau olahraga. Harga televisi versi 240 Hz tentu lebih mahal. Rata-rata televisi 40 inci dengan angka refresh itu dibanderol US$ 2.800, jauh lebih mahal ketimbang versi 120 Hz yang hanya US$ 1.651.

TV Internet
Pada Januari 2009, Sony memperkenalkan Bravia XBR9 dengan layanan Internet. Vendor lain, seperti Samsung, Vizio, Sharp, Panasonic, dan LG, mengikutinya. Dengan layanan tersebut, kita bisa mengakses berita keuangan dan video Yahoo! melalui mesin widget Yahoo!. Pada 2010, akan lebih banyak lagi vendor yang menyediakan layanan ini.

Content Internet Lebih Banyak
Dengan terlibatnya Netflix, Blockbuster, dan Amazon, yang menyediakan layanan streaming film berlangganan via Internet, diperkirakan pada 2010 lebih banyak lagi content dari Internet yang bisa diakses di televisi. Lebih banyak lagi widget untuk musik, permainan, dan content lainnya. Namun, memang, pengguna belum bisa melakukan selancar penuh seperti di layar komputer.

Resolusi 2.160p
Ini adalah resolusi yang jauh lebih tinggi ketimbang 1.080p dan 720p. Angka ini mampu menghasilkan resolusi 3.840 x 2.160 piksel. Di samping lebih jernih, layar 2.160p bisa dipecah menjadi empat layar, masing-masing memiliki resolusi 1.080p.Saat ini, televisi 2.160p memang belum bisa dimiliki kebanyakan orang lantaran harganya mahal. Sejauh ini tokoh yang sudah memilikinya antara lain Bill Gates dan Oprah Winfrey. Bayangkan saja, model televisi 2.160p dari Samsung dan Westinghouse Digital dibanderol US$ 50 ribu. Buatan Sony malah bercokol di harga US$ 76.583.

Makin Tipis
Televisi OLED diperkirakan bisa menggantikan LCD. Pasalnya, televisi OLED lebih hemat listrik, lebih tipis, dan bahkan bisa digulung. Diperkirakan revenue dari panel OLED akan meningkat drastis dari US$ 10 juta pada 2009 ke angka US$ 1,8 miliar pada 2015. Namun, meski angka panelnya tinggi, pengapalan unit televisinya sendiri masih kecil bila dibandingkan dengan LCD.
Tantangan dalam mewujudkannya ke dalam unit serta produksi yang terbatas pada akhirnya membuat televisi OLED masih kecil ukurannya serta mahal harganya. Harga rata-rata televisi OLED 11 inci saat ini adalah US$ 2.500. Bandingkan dengan LCD 40 inci yang harganya US$ 704 saja.

TV Laser
Ini adalah kategori baru bernama televisi proyektor, yang tak membutuhkan layar kaca, melainkan pancaran laser untuk menayangkan gambar. Beberapa produk saat ini sudah bisa menghasilkan gambar 3D.

3D (Tiga Dimensi)
Lahirnya spesifikasi baru dari Blu-ray Disc Association akan mendorong makin luasnya pemakaian 3D pada panel LCD, plasma, dan OLED. Memang, detail spesifikasi itu sendiri belum jelas. Misalnya, belum diketahui apakah spesifikasi ini tak membutuhkan goggle (kacamata khusus 3D).Adapun pengembangan panel layar yang bisa bebas dari goggle masih terhalang problem harga dan teknis. Philips adalah salah satu vendor yang menyerah untuk membuatnya. Meski begitu, pakar memperkirakan televisi 3D ini bisa saja menjadi mainstream pada dua atau empat tahun lagi.

TV Plasma Lebar
Televisi plasma bisa dibikin selebar-lebarnya, bahkan lebih dari 100 inci. Namun, di beberapa tempat konsumsi listriknya sudah dianggap melampaui batas dan terlalu berisik karena memakai kipas. Tantangan pada 2010 adalah bagaimana membuat produk TV plasma yang lebih "hijau". Ramah LingkunganIsu ini akan semakin digarap serius oleh para pembuat televisi. Bagi pembuat panel CCFL, tantangannya adalah menciptakan tabung yang lebih rendah konsumsi listriknya. Adapun bagi pembuat LCD, OLED, dan TV laser, tantangannya adalah membuat material yang bebas racun, seperti merkuri. Tujuannya adalah mencapai standar Energy Star 4.0 atau RoHS di negara-negara Uni Eropa. (Berbagai sumber)

Read More ..

Kami mengucapkan "Selamat Tahun Baru 2010" kepada seluruh pembaca Blog Dunia TV. Kita berharap acara-acara televisi di tahun ini akan semakin bermutu, baik itu berita, seniteron, kuis, infotainment maupun acara-acara hiburan lainnya. Televisi tetap kita butuhkan, tetap menjadi hiburan terbaik bagi masyarakat kita.

Read More ..