31 Agustus 2008

Astro Harus Siarkan Lagi Liga Inggris

Berita dari Kompas : Televisi berlangganan Astro diharuskan menyiarkan kembali tayangan Liga Primer Inggris atau English Premier League/EPL untuk musim 2007-2010. Setidaknya, EPL ditayangkan hingga ada penyelesaian hukum mengenai status kepemilikan PT Direct Vision, pemegang nama dagang Astro di Indonesia. Demikian salah satu keputusan Majelis Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) yang dibacakan di Gedung KPPU, Jumat (29/8) di Jakarta.

Keputusan KPPU itu bermula dari laporan Indovision, Telkomvision, IndosatM2, dan beberapa kelompok masyarakat terhadap dugaan praktik monopoli terkait hak siar EPL. Sejak Agustus 2008, pelanggan Astro tidak lagi menikmati tayangan EPL karena hak siarnya beralih ke Aora TV. ”Kami juga memutuskan agar ESPN Star Sports (ESS) selaku terlapor III membatalkan atau memperbaiki perjanjian dengan All Asia Multimedia Network (AAMN) selaku terlapor IV. Mereka harus menempatkan hak siar dengan proses kompetitif di antara operator televisi di Indonesia,” ujar Ketua Majelis Komisi Anna Maria Tri Anggraini.

Perjanjian ESS dan AAMN dinilai dapat menimbulkan monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang merugikan konsumen. Hak pelanggan televisi berbayar, terutama pelanggan PT DV, harus dilindungi. Kuasa hukum AAMN, Alexander Lay, mengatakan kecewa atas putusan ini. KPPU juga tidak dapat menemukan bukti yang menunjukkan dampak dari monopoli terhadap pasar.

Paras Sharma, Senior Director Marketing and Corporate Communications ESS, menyatakan akan mempelajari keputusan KPPU. ESS akan mengevaluasi pilihan hukum yang tersedia untuk melindungi kepentingan ESS. KPPU juga mendesak pemerintah agar membuat ketentuan tentang standar dan kualifikasi tayangan penting (premium content) dalam penyiaran. Juga regulasi yang mewajibkan peralihan premium content melalui tender dan regulasi atas tayangan yang tidak boleh disiarkan secara eksklusif oleh operator televisi berbayar.

Komentar Saya :
KPPU jangan hanya memberikan sangsi ringan seperti itu, tapi harus kenan denda membayar ganti rugi masyarakat yang sudah kena tipu karena berlangganan Astro untuk nonton Liga Inggris. Jelas itu ada delik penipuan dibalik cara bisnis kotor mereka. Aora TV juga harus diberi sangsi, karena ibaratnya sebagai penadah barang curian!

Read More ..

30 Agustus 2008

Pemerintah Siapkan Digitalisasi Kanal Frekuensi

Berita dari Kompas : Departemen Komunikasi dan Informatika terus menyiapkan diri untuk melakukan digitalisasi kanal frekuensi siaran televisi dan radio. Langkah ini dilakukan demi efisiensi jumlah kanal, sekaligus mengikuti tren perkembangan teknologi. Namun, proses migrasi kanal ini akan dilakukan secara simultan, tidak segera.

Direktur Kelembagaan Komunikasi Pemerintah Daerah Depkominfo Bambang Subiantoro dalam diskusi ”Menuju Kepastian Sistem Regulasi Penyiaran Indonesia”, Jumat (29/8) di Bandung, mengatakan, sedikitnya dua keuntungan jika kanal digital ini diberlakukan nantinya, yaitu menyangkut penyederhanaan infrastruktur siaran serta peningkatan kualitas siaran. ”Dengan digitalisasi kanal ini, ke depan akan ada dua jenis usaha terpisah yang bisa dibangun. Infrastrukturnya sendiri dan isi program siarannya. Dari segi tampilannya, misalnya, suara dan gambar yang dihasilkan lebih bagus dari yang analog,” ucapnya.

Ke depan, setiap lembaga penyiaran tidak perlu repot mengeluarkan investasi berlebih untuk membuat infrastruktur. Satu infrastruktur bisa digunakan untuk beberapa lembaga siaran.
Kanal dengan lebar pita frekuensi 6-8 megahertz ini bisa diisi empat hingga enam stasiun televisi.

Kepala Subdit Analisa dan Evaluasi Frekuensi Radio Depkominfo Rahmat Widayana mengatakan, melalui digitalisasi kanal ini, tak ada lagi superioritas ataupun sebaliknya inferioritas dari para stasiun televisi dalam hal kepemilikan infrastruktur. ”Akan ada entitas tersendiri untuk penyelenggara infrastruktur. Tidak lagi digabung,” tuturnya.

Read More ..

28 Agustus 2008

Mengapa Andy F. Noya Mengundurkan Diri Sebagai Pemred Metro TV?

Berikut adalah tulisan berjudul "Lentera Jiwa" yang saya terima di email saya :

Banyak yang bertanya mengapa saya mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Metro TV. Memang sulit bagi saya untuk meyakinkan setiap orang yang bertanya bahwa saya keluar bukan karena ¡pecah kongs dengan Surya Paloh, bukan karena sedang marah atau bukan dalam situasi yang tidak menyenangkan. Mungkin terasa aneh pada posisi yang tinggi, dengan power yang luar biasa sebagai pimpinan sebuah stasiun televisi berita, tiba-tiba saya mengundurkan diri.

Dalam perjalanan hidup dan karir, dua kali saya mengambil keputusan sulit. Pertama, ketika saya tamat STM. Saya tidak mengambil peluang beasiswa ke IKIP Padang. Saya lebih memilih untuk melanjutkan ke Sekolah Tinggi Publisistik di Jakarta walau harus menanggung sendiri beban uang kuliah. Kedua, ya itu tadi, ketika saya memutuskan untuk mengundurkan diri dari Metro TV. Dalam satu seminar, Rhenald Khasali, penulis buku Change yang saya kagumi, sembari bergurau di depan ratusan hadirin mencoba menganalisa mengapa saya keluar dari Metro TV. Andy ibarat ikan di dalam kolam. Ikannya terus membesar sehingga kolamnya menjadi kekecilan. Ikan tersebut terpaksa harus mencari kolam yang lebih besar.

Saya tidak tahu apakah pandangan Rhenald benar. Tapi, jujur saja, sejak lama saya memang sudah ingin mengundurkan diri dari Metro TV. Persisnya ketika saya membaca sebuah buku kecil berjudul Who Move My Cheese. Bagi Anda yang belum baca, buku ini bercerita tentang dua kurcaci. Mereka hidup dalam sebuah labirin yang sarat dengan keju. Kurcaci yang satu selalu berpikiran suatu hari kelak keju di tempat mereka tinggal akan habis. Karena itu, dia selalu menjaga stamina dan kesadarannya agar jika keju di situ habis, dia dalam kondisi siap mencari keju di tempat lain. Sebaliknya, kurcaci yang kedua, begitu yakin sampai kiamat pun persediaan keju tidak akan pernah habis.Singkat cerita, suatu hari keju habis. Kurcaci pertama mengajak sahabatnya untuk meninggalkan tempat itu guna mencari keju di tempat lain. Sang sahabat menolak. Dia yakin keju itu hanya dipindahkan oleh seseorang dan nanti suatu hari pasti akan dikembalikan. Karena itu tidak perlu mencari keju di tempat lain. Dia sudah merasa nyaman. Maka dia memutuskan menunggu terus di tempat itu sampai suatu hari keju yang hilang akan kembali. Apa yang terjadi, kurcaci itu menunggu dan menunggu sampai kemudian mati kelaparan. Sedangkan kurcaci yang selalu siap tadi sudah menemukan labirin lain yang penuh keju. Bahkan jauh lebih banyak dibandingkan di tempat lama.Pesan moral buku sederhana itu jelas: jangan sekali-kali kita merasa nyaman di suatu tempat sehingga lupa mengembangkan diri guna menghadapi perubahan dan tantangan yang lebih besar. Mereka yang tidak mau berubah, dan merasa sudah nyaman di suatu posisi, biasanya akan mati digilas waktu.

Setelah membaca buku itu, entah mengapa ada dorongan luar biasa yang menghentak-hentak di dalam dada. Ada gairah yang luar biasa yang mendorong saya untuk keluar dari Metro TV. Keluar dari labirin yang selama ini membuat saya sangat nyaman karena setiap hari keju itu sudah tersedia di depan mata. Saya juga ingin mengikuti lentera jiwa saya. Memilih arah sesuai panggilan hati. Saya ingin berdiri sendiri. Maka ketika mendengar sebuah lagu berjudul Lentera Hati yang dinyanyikan Nugie, hati saya melonjak-lonjak. Selain syair dan pesan yang ingin disampaikan Nugie dalam lagunya itu sesuai dengan kata hati saya, sudah sejak lama saya ingin membagi kerisauan saya kepada banyak orang. Dalam perjalanan hidup saya, banyak saya jumpai orang-orang yang merasa tidak bahagia dengan pekerjaan mereka. Bahkan seorang kenalan saya, yang sudah menduduki posisi puncak di suatu perusahaan asuransi asing, mengaku tidak bahagia dengan pekerjaannya. Uang dan jabatan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dia merasa lentera jiwanya ada di ajang pertunjukkan musik. Tetapi dia takut untuk melompat. Takut untuk memulai dari bawah. Dia merasa tidak siap jika kehidupan ekonominya yang sudah mapan berantakan. Maka dia menjalani sisa hidupnya dalam dilema itu. Dia tidak bahagia.Ketika diminta untuk menjadi pembicara di kampus-kampus, saya juga menemukan banyak mahasiswa yang tidak happy dengan jurusan yang mereka tekuni sekarang. Ada yang mengaku waktu itu belum tahu ingin menjadi apa, ada yang jujur bilang ikut-ikutan pacar (yang belakangan ternyata putus juga) atau ada yang karena solider pada teman. Tetapi yang paling banyak mengaku jurusan yang mereka tekuni sekarang -- dan membuat mereka tidak bahagia -- adalah karena mengikuti keinginan orangtua.

Dalam episode Lentera Jiwa (tayang Jumat 29 dan Minggu 31 Agustus 2008), kita dapat melihat orang-orang yang berani mengambil keputusan besar dalam hidup mereka. Ada Bara Patirajawane, anak diplomat dan lulusan Hubungan Internasional, yang pada satu titik mengambil keputusan drastis untuk berbelok arah dan menekuni dunia masak memasak. Dia memilih menjadi koki. Pekerjaan yang sangat dia sukai dan menghantarkannya sebagai salah satu pemandu acara masak-memasak di televisi dan kini memiliki restoran sendiri. Saya sangat bahagia dengan apa yang saya kerjakan saat ini, ujarnya. Padahal, orangtuanya menghendaki Bara mengikuti jejak sang ayah sebagai dpilomat.

Juga ada Wahyu Aditya yang sangat bahagia dengan pilihan hatinya untuk menggeluti bidang animasi. Bidang yang menghantarkannya mendapat beasiswa dari British Council. Kini Adit bahkan membuka sekolah animasi. Padahal, ayah dan ibunya lebih menghendaki anak tercinta mereka mengikuti jejak sang ayah sebagai dokter.

Simak juga bagaimana Gde Prama memutuskan meninggalkan posisi puncak sebuah perusahaan jamu dan jabatan komisaris di beberapa perusahaan. Konsultan manajemen dan penulis buku ini memilih tinggal di Bali dan bekerja untuk dirinya sendiri sebagai public speaker. Pertanyaan yang paling hakiki adalah apa yang kita cari dalam kehidupan yang singkat ini? Semua orang ingin bahagia. Tetapi banyak yang tidak tahu bagaimana cara mencapainya.

Karena itu, beruntunglah mereka yang saat ini bekerja di bidang yang dicintainya. Bidang yang membuat mereka begitu bersemangat, begitu gembira dalam menikmati hidup. Bagi saya, bekerja itu seperti rekreasi. Gembira terus. Nggak ada capeknya, ujar Yon Koeswoyo, salah satu personal Koes Plus, saat bertemu saya di kantor majalah Rolling Stone. Dalam usianya menjelang 68 tahun, Yon tampak penuh enerji. Dinamis. Tak heran jika malam itu, saat pementasan Earthfest2008, Yon mampu melantunkan sepuluh lagu tanpa henti. Sungguh luar biasa. Semua karena saya mencintai pekerjaan saya. Musik adalah dunia saya. Cinta saya. Hidup saya, katanya.Berbahagialah mereka yang menikmati pekerjaannya. Berbahagialah mereka yang sudah mencapai taraf bekerja adalah berekreasi. Sebab mereka sudah menemukan lentera jiwa mereka.

Read More ..

Lima Orang Tewas Jatuh Dari Tower Pemancar RCTI

Sungguh mengenaskan berita yang saya baca dari Elshinta.com berikut ini :
Lima orang pekerja yang sedang melakukan pengelasan tower pemancar RCTI di Kebon Jeruk, Jakarta Barat tewas seketika setelah crane yang mereka tumpangi jatuh. Menurut Kapolres Jakarta Barat, Kombes Polisi Izza Fachri, crane tersebut jatuh, karena tali slingnya putus. Kecelakaan ini terjadi sekitar pukul 13.30 WIB. Belum diketahui identitas lengkap dari 5 pekerja yang malang tersebut"Kami masih terus mengumpulkan keterangan lebih lengkap mengenai penyebab kecelakaan ini. Tapi yang pasti disebabkan oleh tali sling yang putus. Sehingga mereka jatuh dari ketinggian 50 meter. Belum tahu karena faktor-faktor lainnya apa. Bisa saja, banyak besi-besi tajam, sehingga putus. Tapi, kami belum bisa menyimpulkan," ujar Izza.Tim penyidik dari Polsek Kebon Jeruk dan Polres Jakarta Barat saat ini tengah melakukan pengaman barang-barang bukti, seperti alat-alat kerja, dan gondola. Bagaimana kondisi 5 orang pekerja tersebut? "Ya Anda bisa bayangkan sendiri, orang jatuh dari ketinggian 50 meter seperti apa, pasti hancur. Jenazah kelimanya akan kami bawa ke RS terdekat untuk keperluan otopsi," ujar Kapolres Jakarta Barat itu. Sementara itu, para wartawan yang sudah berkerumun di depan pintu gerbang RCTI tidak diperbolehkan masuk ke lokasi kejadian oleh satpam setempat. Rencananya, pihak humas RCTI akan memberikan keterangan lengkap mengenai kejadian tersebut.Yang pasti, kejadian tersebut dibenarkan oleh seorang pedagang rokok yang mangkal di depan RCTI, yang menyebutkan ada lima orang jatuh sehingga meninggal dunia.

Read More ..

27 Agustus 2008

Cerita Tentang Para Petinggi Aora TV

Dari Mediacare di email saya : Sederet nama beken berada di balik Aora TV. Selain kakak-adik Rini Mariani Soemarno dan Ongky Soemarno, pengelola televisi berbayar baru itu digawangi Jeffry Geovanie dan Solihin Kalla, putra Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Aora TV, yang berada di bawah naungan PT Karyamegah Adijaya, akhir-akhir ini ramai jadi gunjingan gara-gara berhasil mengambil alih hak siar eksklusif tontonan sepak bola Liga Inggris 2008-2009 dari PT Direct Vision, yang selama ini menayangkannya di Astro TV. Hak siar internasional lain yang bisa dikantonginya adalah Olimpiade Beijing 2008. Berkat modal ini, Aora TV mengklaim telah berhasil menggaet 2.000 pelanggan, meski umurnya belum sebulan. Rini Soemarno, Menteri Perindustrian dan Perdagangan di kabinet Megawati, disebut-sebut motor utama Karyamegah. Bersama kakaknya, Ongky Soemarno, bekas Presiden Direktur Astra International itu mengendalikan penuh Karyamegah. Jejaknya di Karyamegah berawal dari langkah akuisisi oleh PT Arono Internasional. Perusahaan yang didirikan Rini dan Ongky ini membeli 95 persen saham Karyamegah pada September 2007. Adapun sisa saham 5 persen dimiliki Indonesia HGC Telecommunication. "Ada Jeffry Geovani, ada juga Solihin," kata Rini saat ditemui Tempo di kantornya pada Kamis lalu.

Jeffry Geovani adalah Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus Pusat Muhammadiyah, yang sempat bergabung dengan tim sukses calon presiden Partai Golkar untuk Pemilihan Umum 2009. Sedangkan Solihin yang dimaksud adalah Solihin Kalla, anak bungsu Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang disebut-sebut putra mahkota bisnis keluarga Kalla. Keduanya mengendalikan Indonesia HGC Telecommunication. Jeffry sebagai direktur utama, sedangkan Solihin komisaris utama. Rini menceritakan, sebelum Arono mengambil alih 95 persen saham Karyamegah, pembicaraan awal dengan pemilik lama dilakukan oleh Indonesia HGC. "Mereka yang melakukan komunikasi," katanya. Menurut sumber Tempo di Komisi Penyiaran Indonesia, Jeffrey dan Solihin memang aktor utama lahirnya Karyamegah sebagai televisi berbayar. Sebab, meski didirikan pada November 2006, Karyamegah awalnya tak bermaksud menjadi penyelenggara televisi berbayar. "Nama keduanya disebut-sebut ketika Karyamegah mengajukan rekomendasi kelayakan," ujarnya. Namun, Solihin tak pernah tercantum dalam akta perusahaan.

Berdasarkan akta notaris pendirian perusahaan pada 29 November 2006, Karyamegah, yang bermodal dasar Rp 1 miliar, dimaksudkan menjadi perusahaan perdagangan, pengadaan, waralaba, pengembang pembangunan, garmen, pelayanan hukum dan pajak, serta jasa kebersihan. Nama Jeffry baru muncul dalam akta notaris Karyamegah tertanggal 21 Februari 2007, soal keputusan pemegang saham sehari sebelumnya yang mengangkatnya sebagai direktur utama. Jeffry belakangan lengser berbarengan dengan berubahnya haluan perusahaan menjadi penyelenggara siaran televisi berlangganan melalui satelit per 13 Maret 2007. Jeffry mengakui Indonesia HGC kini menguasai 5 persen saham Karyamegah. Namun, dia membantah anggapan bahwa perusahaannya yang pertama kali berkomunikasi dengan Karyamegah. Ia pun menyangkal jika disebut pernah menjabat posisi puncak di Karyamegah. "Nama panjangnya saja saya tidak tahu," ujarnya. Menurut dia, investasi Indonesia HGC di Karyamegah dilakukan atas ajakan Rini. Bahkan awalnya Rini menawarkan 20 persen kepemilikan saham, tapi tak diambil dengan pertimbangan diversifikasi investasi. "Kami masuk satu bulan setelah Arono mengambil alih Karyamegah," ujarnya.

Read More ..

23 Agustus 2008

Polling Meminta TV Ikut Mengintrol Pemilu 2009?

Hasil polling di blog Dunia TV menunjukan hasil yang bertolak belakang dengan sifat media yang seharusnya independen dan berimbang dalam setiap pemberitaannya. Polling Dunai TV yang berjudul "Sejauh Mana Televisi Berperan Dalam Pemilu 2009?" memberikan tiga pilihan jawaban kepada para netter, yaitu a. Harus Ikut Mengontrol, b. Netral Tanpa Memihak, dan c. Membiarkan dan Bersikap Masa Bodoh.

Alangkah mengejutkannya melihat hasil polling tersebut, lebih dari 50% menjawab (a), yaitu Televisi Harus Ikut Mengontrol. Sedangkan yang menjawab (b) Televisi Harus Netral tanpa Memihak, hanya 28%. Fenomena apakah ini? Apakah polling tersebut dapat kita percaya?

Percaya atau tidak, hasil polling yang meminta Televisi ikut mengontrol berita Pemilu 2009, nampaknya bukan basa-basi atau main-main belaka. Ini menunjukan adanya indikasi dari masyarakat yang mulai goyah kepercayaannya terhadap penyelenggara Pemilu, entah itu KPU, KPUD atau Pemerintah. Mungkin karena kita lihat sendiri, hasil Pemilu yang lalu-lalu, telah terbukti gagal menjaring anggota legeslatif yang bermoral baik, walaupun tidak semuanya begitu.

Kami sebagai moderator Dunia TV, hanya menghimbau kepada pengelola station Televisi agar tetap menjaga independensi dan netralistas-nya dalam meliput Pemilu 2009. Keinginan masyarakat agar Televisi ikut mengontrol, kami rasa perlu dipertimbangkan dalam arti Televisi harus sudah mulai lebih kritis terhadap hasil-hasil Pemilu. Kontrol dari Televisi harus dibangun dari SDM bagian Redaksi atau Pimpinannya yang bersih dan tidak korup. Harus 'no amplop' dan jangan sampai bisa dibeli oleh Partai Politik yang banyak duit.

Televisi harus ikut mengontrol jika ada kejanggalan atau penyimpangan dalam Pemilu 2009. Itu harus dibangun bersama dengan sesama Televisi lainnya. Harus kompak. Jangan hanya satu dua televisi saja. Kita tahu MetroTV dimiliki oleh Surya Paloh, yang juga pentolan Partai Golkar. Dari situ, kita sebagai masyarakat juga akan mengontrol televisi ini, netral atau berpihak kepada Partai Golkar? Kalaupun mau berpihak, yang penting seberpihak apa?

Jangan hanya Televisinya, tetapi juga masyarakat penonton TV harus ikut bersuara dalam acara-acara diskusi interaktif di televisi dan radio bila menemukan kejanggalan dalam Pemilu 2009. Semoga hasil Pemilu 2009 nanti dapat menjaring anggota legeslatif yang bersih dan tidak mata duitan atau mata keranjang. Semoga saja!!

Read More ..