19 Februari 2009

Ada Apa Dengan SCTV??

Kami kutipkan tulisan yang beredar di milis belum lama ini. Berikut tulisannya :

Ada kabar buruk soal SCTV. Don Bosco yang sebenarnya belum resmi keluar dari Komisi Penyiaran Indonesia kini menjadi pimpinan divisi pengembangan program berita untuk SCTV dan anak-anak perusahaan SCM.

Dengan segera efeknya terasa. Rosi Silalahi ditendang ke atas menjadi penasehat perusahaan. Pemred SCTV diambilalih oleh sang owner, Fofo Sariatmadja. Bayu Setiono sudah diperintahkan tidak bersiaran karena memprotes perubahan mencurigakan ini. Beberapa nama kabarnya sudah menyatakan akan mengundurkan diri.

Marilah kita berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Hampir pasti Don Bosco dimasukkan karena alasan politik. Dia adalah anggota KPI, yang sejak awal memang sudah mencurigakan. Dia masuk ke KPI karena diutus ATVSI.

Sejak Don Bosco dan Iwan Uyun masuk, ditambah lagi dengan kaum oportunis murni seperti Bimo Nugroho dan Sasa Djuarsa, KPI menjelma menjadi kumpulan pesuruh yang sekadar menjalankan perintah industri dan pemerintah.

KPI sekarang sudah mampus. Bimo saja sebanarnya sudah melamar ke BRTI, tapi sayangnya tak lolos seleksi. Sekarang, setahun sebelum masa jabatannya di KPU usai, Don sudah loncat ke SCTV.

Kenapa sekarang? Kebetulan? Get real, man!
Jawaban paling mudah adalah karena menjelang pemilu. Rosi, Bayu dkk saya rasa terlalu tidak bisa dikontrol dan diprediksi. Mereka terlalu independen. Pengaruh Don sudah kelihatan kok. Lihat saja acara Barometer Rabu malam. Acara yang sebelumnya diisi oleh hal-hal substanstif dan serius itu, kemarin berubah menjadi dangkal. Isunya soal Ponari dengan yang dibahas dengan cara lemot. Aku tanya ke produsernya: "Kok bisa begitu?" Jawabnya, ia tidak lagi dilibatkan. Don yang turun tangan menentukan sendiri isi program dan mengganti topik yang sebelumnya diputuskan
yakni soal Hillary Clinton.

Don akan mengubah gaya pemberitaan SCTV, menjadi lebih soft dan entertaining. Tampilan presenter akan menjadi penting. Siapapun yang sering baca teks-teks ekonomi politik kritis yang memperingatkan bahwa campur tangan modal dalam media itu berbahaya bagi demokrasi, sekarang menemukannya secara kasat mata di Don Bosco
dan SCTV. Don itu bukan mastermind. Dia cuma operator.

Pertanyaannya: siapa?

Siapapun yang peduli dengan kebebasan pers, perlu concern dengan perkembangan SCTV ini.

Read More ..

16 Februari 2009

Bingung Memilik Operator TV Kabel

Saya kutipkan kebingungan seseorang dalam memilih operator TV kabel mana yang lebih baik. Berikut tulisannya dari milis yang beredar di internet :

Dear pembaca sekalian, semakin jeleknya tayangan tv lokal mau tak mau membuat saya tampaknya mesti pasang tv berlangganan. Jadi dalam kesempatan ini, saya mau tanya apakah dalam waktu dekat ini akan ada tambahan operator pay-tv selain dari yang sudah eksis seperti : Indovision, FirstMedia, TelkomVision, dan OkeVision ? Maklum, tampaknya kalau cuman mereka doank ( ditunggu yang gaya pemasarannya agresif ala Astro, he he he... ), rasanya harga abodemennya masih belum terjangkau untuk ukuran kantong saya, bukankah dengan nantinya banyak kompetitor yang masuk juga mau nggak mau mereka perang paket tarif untuk memikat pelanggan baru ?

Tadinya saya mau pasang OkeVision, tapi lihat disitusnya tampaknya mesti ada “kontrak” 1 tahun, kalau berhenti di tengah jalan nanti dipotong biaya pinalti. Nach, saya tuch takutnya sesudah pasang OkeVision ini pas 2-3 bulan selanjutnya ada tawaran lain yang lebih oke dengan harga yang relatif terjangkau, khan saya jadi rugi.

Btw, mungkin ada yang bisa sharing buat para pembaca yang sudah menjadi pelanggan pay-tv, serial atau program apa saja yang menjadi favoritnya ? Buat penyedia content juga mohon bisa lebih sering mensosialisasikan lagi di media massa dan mal2, misalnya nich kalau nonton Universal ada unggulan drama “Crusoe” ( seperti yang dipromosikan OkeVision ), di AXN bisa dapat serial CSI atau 24, di StarWorld ada Heroes atau The Simpsons, dan seterusnya. Jadi pemirsa tahu apa produk yang bersedia untuk dibayarnya, bukan cuman ngomong “jangan asal” atau “bukan yang lain” tapi kita tidak dikasih tahu apa berbagai alasan agar kita tidak “asal pilih” tersebut.

NB :

Menyimak fenomena makin murahnya tv berlangganan, buat tv swasta nasional siap2 saja untuk kehilangan potensi segmen pemirsa televisi kelas A dan B di daerah perkotaan.

Read More ..

12 Februari 2009

TV Lokal Jadi Target Kampanye Politik

Televisi sebagai bagian dari media massa memiliki daya tarik sendiri dalam menyiarkan informasi politik. Televisi tidak hanya memberikan informasi dan hiburan, tetapi juga memberikan pendidikan dan sarana aktualisasi diri. Poin terakhir inilah yang menjadi alasan betapa banyaknya pihak yang memanfaatkan televisi untuk sarana aktualisasi baik pribadi maupun kelompok, terutama saat pemilu seperti saat ini. Dengan tampil di televisi, walaupun hanya beberapa menit, jutaan pemirsa dapat menyaksikannya.


”Peran strategis inilah yang membuat televisi diperebutkan banyak pihak baik dari pihak penguasa maupun pemilik,” ujar Wakil Pemimpin Redaksi TV One, Nurjaman, pada acara Seminar Media dan Politik “Peranan Media Dalam Pemilu 2009” di Ruang Sidang Seminar Gedung D Lantai 2 FISIP Unpad di Jatinangor, Selasa (10/2).

Acara yang diselenggarakan oleh Laboratorium Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad ini dibuka oleh Ketua Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Padjadjaran (Unpad) Prof.Dr. Nasrullah Natsir, M.S.


Pada masa kampanye seperti sekarang, televisi nasional tidak menjadi sasaran kampanye calon legislatif (caleg) karena biayanya sangat besar. Mereka mungkin lebih memilih televisi lokal yang lebih dekat dengan daerah pemilihannya (dapil). ”Walaupun demikian televisi nasional masih menjadi pilihan para calon presiden (capres) untuk mengiklankan dirinya untuk persiapan kampanye pemilu presiden,” ujar Nurjaman.


Sementara itu, Ketua KPID Jabar Dadang Rahmat Hidayat menyatakan, peranan media massa dalam politik sangatlah besar. Satu sama lain saling berkaitan erat. Media massa dapat memberikan efek komunikasi politik yang sangat besar. Efek-efek tersebut antara lain sosialisasi politik, partisipasi politik, pendidikan politik, dapat mempengaruhi pemilih dan mempengaruhi kebijakan politik.


”Sosialisasi memperbesar partisipasi politik baik secara kuantitatif maupun kualitatif,” kata Dadang yang juga Dosen Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi. Dadang juga menambahkan bahwa media massa sebaiknya tidak hanya mengangkat persoalan secara objektif, tetapi juga solutif.


Hal yang sama juga diungkapkan oleh Dosen Fisip Unpad Samugyo Ibnu Redjo. Menurutnya, media massa memang memiliki peranan yang besar dalam mempengaruhi khalayak., akan tetapi media massa seakan-akan menjauhkan dari realita politik yang ada. Samugyo mencontohkan, televisi sekarang banyak yang hanya memikirkan rating tanpa memikirkan dampak yang terjadi masyarakat. (KPI)

Read More ..

06 Februari 2009

KPI Pusat Tegur SCTV dan RCTI Terkait Iklan Partai Gerindra

KPI Pusat memberikan teguran kedua pada RCTI dan SCTV terkait penayangan iklan Partai Gerindra yang melebihi durasi yang telah ditentukan oleh UU No.10 tahun 2008 tentang Pemilu 2009. Meskipun demikian, KPI Pusat hanya meminta kepada lembaga-lembaga penyiaran yang bersangkutan untuk lebih memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku di UU Penyiaran dan UU Pemilu.

Menurut UU Pemilu 2009 pasal 95 ayat (1) menyebutkan batas maksimum pemasangan iklan kampanye Pemilu di televisi untuk setiap peserta Pemilu secara kumulatif sebanyak 10 (sepuluh) spot berdurasi paling lama 30 (tiga puluh) detik untuk setiap stasiun televisi setiap hari selama masa kampanye. Hal itu diungkapkan dalam surat teguran KPI Pusat kepada kedua stasiun televise tersebut, Rabu (4/2).

Hasil analisis desk penyiaran Pemilu KPI menyatakan pelanggaran kelebihan durasi iklan Partai Gerindra terjadi pada bulan November dan Desember 2008. Malah, pelanggaran penayangan iklan Partai Gerindra di RCTI pada bulan November tahun tersebut sebanyak enam kali, sedangkan pada bulan Desember ada tiga kali pelanggaran.

Menurut penjelasan KPI Pusat dalam surat teguran tersebut, KPI Pusat pernah melakukan teguran serupa pada 17 September 2008. (KPI)

Read More ..

05 Februari 2009

Diancam Distop, Indosiar Tetap Tayangkan 'Hareem'

KPI Pusat mengancam akan menghentikan sinetron 'Hareem' yang dibintangi Shandy Aulia jika materinya tidak diperbaiki. Namun pihak Indosiar sebagai stasiun televisi yang menayangkan 'Hareem' tetap akan memutar sinetron itu.

"Sementara belum akan kita perbaiki karena kita akan bicara dulu dengan pihak PH-nya, jadi sementara ini tetap seperti biasa," jelas Gufron, Humas Indosiar, saat dihubungi detikhot lewat telepon, Kamis (5/2/2009).

Gufron menjelaskan kalau pihaknya sudah bertemu dengan KPI Pusat dan telah membahas soal 'Hareem'. Indosiar pun menyambut baik surat peringatan yang telah dikirimkan.

Menurut Gufron, cerita 'Hareem' tidak sedikit pun berniat untuk melecehkan atau menghina Islam. Mengenai protes yang dilayangkan MUI dan sejumlah anggota masyarakat, Indosiar akan menjadikannya sebagai masukan.

"Ini kan tayangnya masih awal-awal yah, baru seminggu, jadi ini kan bukan keseluruhan ceritanya. Tapi di sini kami ingin menyampaikan kalau kami tidak ada maksud untuk menyinggung atau melecehkan agama mana pun," tutur Gufron.

'Hareem' yang tayang Senin hingga Sabtu mulai pukul 19.00 WIB itu bercerita mengenai seorang pria yang menganut poligami dalam rumah tangganya. Cerita tersebut mirip dengan kisah Syekh Puji yang bikin heboh itu. (Detik.com)

Read More ..

01 Februari 2009

"Obamaforia" di Layar Kaca

Kompas Minggu menulis : Eforia atas kemenangan Barack Obama sebagai presiden ke-44 Amerika Serikat terjadi di Indonesia. Hampir semua stasiun televisi nasional di Tanah Air, bahkan, merasa perlu menyiarkan pelantikan Obama secara langsung dari Capitol Hill, Selasa (20/1) waktu setempat.

Menyaksikan acara pelantikan Obama melalui televisi, kita bisa terhanyut dan merasa seakan-akan Obama itu orang Indonesia. Mengapa perasaan seperti itu muncul? Karena fakta bahwa Obama pernah tinggal empat tahun di Jakarta, ditonjol-tonjolkan terus dan menjadi cantolan dari sebagian pemberitaan atau talk show.

Itu sah-sah saja, sebab fakta tersebut memang merupakan ”barang dagangan” berharga di tengah euforia atas kemenangan Obama yang melanda orang Indonesia.

Di layar kaca, beberapa stasiun televisi berlomba menampilkan orang-orang Indonesia yang pernah ada di sekeliling Obama. TVOne, misalnya, mewawancarai beberapa teman Obama semasa kecil, mantan gurunya, dan Lia atau Mbak Non yang mengaku sebagai kakak angkat Obama.

Mereka ditanya secara rinci bagaimana Obama kecil, bagaimana kecerdasannya, apa kesukaannya, bagaimana tampang Obama ketika ngambek, dan pertanyaan lainnya yang boleh jadi tidak relevan lagi dengan sosok Obama sebagai presiden AS saat ini.

MetroTV memberitakan Obama sejak dia mengikuti konvensi pemilihan calon presiden di Partai Demokrat. Setelah itu, televisi berita ini cukup intens memberitakan kampanyenya hingga Obama terpilih sebagai presiden.

Devi Triana, Senior Produser MetroTV, mengatakan, pihaknya sengaja membeberkan proses pemilu AS secara detail agar bisa diambil hikmahnya oleh bangsa Indonesia yang tahun ini juga akan menggelar pemilu.

Puncak dari seluruh pemberitaan soal Obama di televisi terjadi ketika pelantikan Obama sebagai presiden AS. Stasiun televisi nasional mengalokasikan waktu mulai pukul 23.00-03.00 untuk acara tersebut.

MetroTV memilih membicarakan bagaimana prosesi pelantikan presiden AS sambil menantikan tayangan langsung pelantikan dan pidato Presiden Obama. Sayangnya, siaran langsung itu seringkali terpotong iklan yang menjengkelkan penonton.

Devi mengatakan, slot iklan program Live Event yang menayangkan pelantikan Obama memang habis terjual. ”Memang ada beberapa bagian yang terpotong, tapi ketika Obama dilantik hingga pidato, bersih dari iklan,” katanya, Jumat (30/1).

Trans TV membicarakan harapan terhadap Obama sambil berusaha menjawab apakah harapan tersebut realistis. Stasiun ini juga mencoba menggambarkan kehidupan masyarakat AS melalui cerita para selebriti yang pernah tinggal di negara itu, seperti Tantowi Yahya dan Paquita Wijaya.

Ketika memasuki sesi pidato Obama, Trans menerjemahkan secara lisan hampir semua pernyataan Obama dalam bahasa Inggris ke Indonesia. Alih-alih menjelaskan, penerjemahan itu justru mengganggu penonton. Pasalnya, suara sang penerjemah seringkali menutupi pernyataan Obama.

Wakil Pemimpin Redaksi Buletin dan Isu Terkini Trans TV Santa Curanggana, Jumat, mengatakan, pihaknya sengaja menerjemahkan pidato Obama agar penonton di rumah mengerti apa yang dibicarakan Obama saat itu juga. Soal kualitas terjemahan, Trans selalu mengevaluasinya.

SCTV membungkus tayangan pelantikan itu dengan tema Obama dan Gaza. Intinya, stasiun ini ingin membicarakan prospek perubahan kebijakan AS di Palestina semasa pemerintahan Obama.

Dengan segala pendekatannya, pengelola stasiun televisi yang menayangkan pelantikan Obama mengaku berhasil mendongkrak audience share sekaligus menjual iklan.

Euforia Obama yang sebagian besar dibentuk media massa itu, pada akhirnya menjadi barang dagangan media.

Read More ..