28 Februari 2009

KPI Ingat Stasiun TV Soal Iklan Reg

KPI Pusat masih menemukan adanya tayangan iklan SMS Reg Supranatural atau mistis yang tayang di bawah pukul 22.00 WIB di beberapa stasiun televisi nasional. Hal itu terungkap dari pengaduan dan juga pemantauan KPI Pusat akhir-akhir ini. Terkait hal itu, KPI Pusat memberikan peringatan kepada semua stasiun televisi, Jumat (26/2).

Dalam surat peringatan yang dikeluarkan oleh KPI Pusat dijelaskan tayangan tersebut dinilai telah melanggar Standar Program Siaran (SPS) Pasal 9 ayat 1. Pasal tersebut menyebutkan “Program dan promo program faktual yang bertemakan dunia gaib, paranormal, klenik, praktek spiritual magis, mistik, kontak dengan roh, hanya dapat disiarkan pada pukul 22.00-03.00 sesuai dengan waktu stasiun yang menayangkan.

KPI Pusat juga mengungkapkan kalau pada tahun lalu (10 April 2008 dan 19 Juni 2008), KPI Pusat pernah memberikan surat peringatan tentang hal yang sama kepada salah satu televisi. Terkair hal itu, KPI berencana akan menindaklanjuti ke jalur hukum apabila peringatan kali ini tidak diindahkan oleh semua stasiun televisi.

Dalam surat peringat tersebut, KPI Pusat juga melampirkan daftar-daftar iklan Reg yang tayang di televisi yakni Reg Mimpi, Reg Ramal, Reg Primbon Air, Reg Weton, Reg Weton Konsultasi, Reg Mantra, Reg Primbon, Reg Manjur, Reg Kasih, Reg Fery nama tanggal lahir, Reg Yo, Reg Mama, Reg Reg Ramal Tanggal Lahir, Reg Misteri, Reg Hantu dan Reg Jodoh. Kesemua iklan tersebut berdurasi 30 detik. (KPI)

Read More ..

TV Analog Kian Jenuh, TV Digital Mulai Digandrungi

Produsen elektronik mulai melirik pasar TV digital seiring pasar TV analog yang kian jenuh. Mau tahu seluk beluk metode penyiaran digital yang diklaim mempunyai banyak keunggulan dibandingkan siaran TV analog ini?

Siaran TV digital atau penyiaran digital adalah jenis siaran televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal video, audio, dan data ke pesawat televisi.

Perkembangan televisi digital sendiri dilatarbelakangi oleh perubahan lingkungan eksternal, yaitu pasar TV analog yang sudah jenuh dan adanya kompetisi dengan sistem penyiaran satelit dan kabel.

Selain itu juga adanya perkembangan teknologi, yaitu teknologi pemrosesan sinyal digital, teknologi transmisi digital, teknologi semikonduktor serta teknologi peralatan yang beresolusi tingggi.

Untuk penerapan sistem siaran televisi digital di Indonesia, pemerintah telah menerbitkan keputusan yaitu Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika No. 27/P/M.Kominfo/8/2008 tentang Uji Coba Lapangan Penyelenggaraan Siaran Televisi Digital dimana teknologi digital yang akan digunakan adalah sistem siaran Digital Video Broadcasting Terrestrial (DVB-T).

Siaran DVB-T pun diklaim mempunyai banyak keunggulan dibandingkan dengan siaran TV analog. Diantaranya, tahan terhadap efek interferensi, kualitas gambar yang lebih baik, tidak ada noise (bintik-bintik, semut), bayangan atau 'ghost', interaktif, EPG (Electronic Program Guide) yang menampilkan jadwal acara sampai beberapa hari ke depan dan penerimaan yang lebih jelas walaupun pada saat bergerak (mobile).

Kelebihan lainnya adalah efisiensi di banyak hal, antara lain pada spektrum (efisiensi bandwidth), efisiensi dalam network transmission, transmission power dan power konsumsi. Dengan keunggulan-keunggulan tersebut, sistem siaran DVB-T sangat tepat untuk diimplementasikan di Indonesia yang jumlah penduduknya sangat besar dan beraneka ragam budayanya.

Pelaksanaan migrasi dari siaran analog ke sistem digital pada umumnya dilakukan dalam 2 tahap yaitu tahap transisi dan tahap cut-off. Tahap transisi yaitu menggunakan siaran analog dan digital secara bersamaan sebelum mengganti seluruh perangkat ke sistem digital.

Pada tahap ini agar TV analog dapat menerima sinyal digital dengan kualitas yang baik maka diperlukan suatu perangkat tambahan yaitu Set Top Box.

Produsen Bersiap

Kondisi di atas tentunya membuat produsen elektronik harus bersiap menyongsong suatu era baru. Salah satu produsen yang mulai bersiap menghadapi penerapan sistem siaran televisi digital, yang menurut rencana akan diujicoba Maret 2009 itu adalah Polytron.

Polytron telah memproduksi rangkaian produk Set Top Box dan TV Digital. Set Top Box adalah sebuah perangkat tambahan untuk menerima sinyal digital yang dipancarkan oleh sistem DVB-T yang kemudian diubah ke dalam sinyal analog agar dapat ditampilkan pada monitor TV analog.

Sedangkan TV digital adalah sebuah televisi yang telah menyisipkan teknologi digital ke dalamnya untuk menerima siaran televisi DVB-T tanpa perlu menggunakan perangkat tambahan lagi.

Dalam keterangan tertulis yang diterima detikINET, Jumat (27/2/2009), Set Top Box Polytron yang diberi nama Polytron DVB (Digital Video Broadcast) ini dipasarkan mulai bulan Februari 2009 di kawasan Jabotabek dengan harga Rp 425.000.

Selain itu PT Hartono Istana Teknologi, selaku pemegang merek Polytron, juga telah memproduksi televisi digital Polytron yang sudah mengintegrasikan sistem DVB-T di dalam pesawat tersebut, yaitu pada TV Digital Polytron, yang sudah bisa langsung menangkap siaran secara digital. (Detik.com)

Read More ..

27 Februari 2009

Rating Menentukan Tren Industri Penyiaran

Persoalan rating bagi industri penyiaran ternyata juga dikeluhkan oleh kalangan industri itu sendiri. Pasalnya, keberadaan rating yang hanya dimonopoli oleh satu lembaga survey ini dinilai menentukan tren tayangan di televisi. KPI diharapkan melakukan pengawasan dan pengecekan terhadap kevalidan survey dari lembaga tersebut.

“Saya usulkan KPI membuat semacam competitif research secara periodik untuk mengecek hasil penelitian dari lembaga survey itu,” kata salah satu perwakilan TV One di depan anggota KPI Pusat Yazirwan Uyun ketika melakukan sosialisasi P3 dan SPS di studio TV One, Kamis (26/2).

Menanggapi usulan tersebut, Uyun menyatakan KPI tidak memiliki kewenangan untuk mengawasi kinerja lembaga survey itu. Kewenangan KPI hanya mengawasi isi siaran yang sudah tayang.

“Solusinya, kita bisa mendorong lembaga lain untuk melakukan hal itu tapi bukan KPI. Kabarnya, Depkominfo sedang berencana untuk membuat research seperti itu,” jelas Uyun.

Selain itu, diskusi yang berlangsung hampir dua jam tersebut, membahas pula mengenai padangan KPI terhadap kekerasan dalam berita, proses teguran KPI, kuis SMS, iklan, tayangan berita dan iklan kampanye Pemilu 2009 dan juga tayangan mistik.

Menanggapi mengenai kekerasaan di berita, Uyun menjelaskan bahwa hal itu belum diatur secara jelas di P3 dan SPS KPI. Bahkan, hal itu masih menimbulkan multitafsir seperti contohnya pendefinisian mengenai kata kekerasaan.

Untuk ini, Uyun mengharapkan kepada pihak industri agar membantu memberikan masukan terhadap hal ini demi kesempurnaan P3 dan SPS yang kemungkinan direvisi kembali. “KPI dalam pembahasan masalah yang timbul diranah jurnalistik akan berkoordinasi dengan Dewan Pers sebelum membuat keputusan karena mereka yang paham mengenai persoalan ini,” ungkapnya.

Adapun soal proses teguran, Uyun menceritakan kalau proses teguran yang dilayangkan oleh KPI kepada lembaga penyiaran dilakukan secara hati-hati. KPI tidak melakukan teguran secara sembarangan meskipun banyak aduan dari publik. “KPI selalu berdiskusi sebelum memberikan surat teguran. Meskipun demikian, KPI wajib menyampaikan setiap aduan yang masuk ke KPI kepada lembaga penyiaran yang bersangkutan,” jelasnya.

Sedangkan mengenai iklan, KPI hanya bisa mengatur persoalan isi dari iklan tersebut. Sedangkan untuk masalah judi atau juga soal penipuan tarif, hal itu merupakan kewenangan dari Depsos dan BRTI untuk menyelidikinya.

“Mengenai ranah mistik, bila dirasa ragu-ragu mengenai hal ini, KPI selalu berdiskusi dengan MUI. Namun, apabila sudah jelas, pasti akan KPI tegur langsung,” papar Yazirwan Uyun.

Mengenai persoalan-persoalan tersebut, pihak industri juga berharap kepada KPI untuk membuat aturan yang jelas khususnya mengenai mistik dan juga tayangan-tayangan mengenai ajaran baru yang berkembang dimasyarakat. (KPI)

Read More ..

Generasi Televisi Kita

HANDRAWAN NADESUL Dokter, Pengasuh Rubrik Kesehatan, Penulis Buku menulis di rubrik Kompas tentang Televisi sbb. :

Dominasi penyakit orang sekarang lebih lantaran tak tepat memilih gaya hidup. Salah satunya adalah soal pilihan menu. Penyakit degeneratif dan kanker terbukti berkorelasi dengan apa yang kita makan sedari kecil. Itulah sebabnya jantung koroner dan stroke kini menimpa usia lebih muda.

Boleh jadi sebab lidah orang sekarang sudah terbentuk salah selagi masih kecil. Cita rasa dirusak oleh menu restoran dan jajanan (snackaholic) sejak kanak-kanak. Anak sekarang tak menyukai sayur lodeh, tempe, dan pepes jamur di meja makan rumah.

Sungguh celaka kini kita melihat jajanan pabrik sudah merambah kampung dan desa. Di mana-mana anak memilih keripik ketimbang kacang rebus. Ketika kini di Jepang dan orang Barat menjauhi menu olahan serta mencari ubi, labu, bulgur, dan padi-padian alami, masyarakat kita masih gandrung pada ayam goreng dan kerupuk.

Gorengan kita kebanyakan buruk jenis minyaknya dan kerupuk memakai penyedap serta zat warna yang belum tentu layak dikonsumsi.

Gizi ”generasi televisi”

Tepat bila menyebut generasi anak sekarang sebagai ”generasi televisi”. Gizi anak dibangun oleh asupan penganan yang ditawarkan iklan televisi. Belum tentu semua menyehatkan alih- alih bergizi. Yang aman dikonsumsi pun masih perlu dikaji kandungan penyedap dan pemanis buatannya (sweetener).

Tentu tidak semua pemanis buatan aman dikonsumsi. Yang tergolong aman buat orang dewasa belum tentu aman untuk anak. Tabiat serba manis, asin, dan berlemak dari menu jajanan adalah sumber penyakit di hari depan. Namun, sihir iklan makanan televisi mengecoh cita rasa sehat anak kita.

Zat kimia bertambah

Di Amerika Serikat, zat kimia dalam industri makanan terus bertambah. Namun, Food and Drugs Agency (FDA), semacam Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM), di sana ketat melarang dan mengawasi produk yang membahayakan kesehatan.

Sementara itu, industri makanan rumahan begitu menjamur di sini sehingga tidak terjangkau oleh rentang kendali Badan POM sendiri.

Belum terhitung industri makanan yang nakal. Ada yang nekat memakai bahan berbahaya plastik untuk bikin garing gorengan, mencampurkan kimiawi berbahaya untuk minuman cincau, odol palsu, bahan perenyah keripik, zat antilengket mi, selain pengawet yang belum tentu aman dikonsumsi.

Beberapa negara sudah melarang untuk mengonsumsi minyak trans. Hampir semua jajanan, biskuit, penganan yang dijual di pasar memakai minyak yang tak menyehatkan.

Sama tak menyehatkannya dengan minyak goreng bekas restoran yang ditadah oleh penjaja gorengan pinggir jalan.

Orang kaya dan rakyat papa kini sama-sama memikul risiko kanker sebab tak menginsafi bertahun-tahun menelan karsinogen pencetus kanker dalam makanan sehari-hari.

Saus tomat dan sambal murah industri rumahan di ibu kota negara pun masih banyak beredar, apalagi di kampung dan desa. Tiap hari kita menelan zat warna tekstil rhodamine B dalam saus tomat dan sambal murah, atau warna kuning sirop dan limun methylene yellow, berarti bibit kanker tengah ditanamkan.

Belum nitrosamine dalam ikan asin, obat nyamuk antibelatung yang disemprot ke ikan asin, luasnya pemakaian pestisida, kimiawi pengawet kulit apel impor, dan banyak lagi yang tertelan dari air minum, serta jajanan, tak semua terbebas dari zat karsinogen (bersifat menyebabkan kanker).

Ada yang meramalkan, generasi anak sepuluh tahun lalu dan sepuluh tahun di depan bakal berbondong-bondong masuk rumah sakit kanker jika konsumsi menu tercemar karsinogen tidak dihentikan. Termasuk generasi orang tua yang tergoda menukar menu ikan pindang ke bistik. Kelebihan konsumsi daging juga berkorelasi dengan kejadian kanker.

Daripada makanan industri rumah, makanan dan penganan pabrik betul lebih aman, tetapi kelebihan kalori dari minyak, gula, susu, dan mentega (junk food). Adapun makanan buatan rumahan selain belum tentu cukup bergizi dan tak higienis, mungkin tak aman dikonsumsi jika kita melihat zat aditif yang dipilih.

Adalah kewajiban pemerintah menyediakan makanan yang aman bagi masyarakat. Masyarakat berhak dilindungi dari ancaman makanan yang merusak kesehatan.

Ke ”meja makan nenek”

Sudah saatnya memberi tahu anak dan masyarakat untuk kembali memilih menu ”meja makan nenek”. Selain lebih murah, menu makanan itu juga menyehatkan.

Menu tradisional bersifat menu seimbang (slow food). Bahwa yang menyehatkan itu bukanlah bistik, melainkan pepes ikan. Bukan donat atau ayam goreng, melainkan pisang rebus atau tahu dan tempe bacem. Bukan roti putih, melainkan bekatul dan bulgur. Bukan biskuit, melainkan talas rebus. Terigu dan gula pasir tak lebih menyehatkan daripada gandum dan air tebu.

Menu restoran selain bahannya belum tentu segar, umumnya kelebihan kalori dan diimbuhi kimiawi yang belum tentu aman dan menyehatkan.

Sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, dan semangkuk sayur lodeh itu kiprah menu orang yang sadar hidup sehat sekarang ini. Ketika ubi, ketela, sayur dan buah organik, biji-bijian, kacang-kacangan, serta umbi-umbian tersedia di supermarket, berarti komoditas itu yang sedang digandrungi dan dicari orang sekarang.

Ketika aneka lalapan hadir makin beraneka di pasar modern, bukti orang gedongan mulai sadar bahwa pilihan sehat bukanlah menu olahan.

Ketika semakin banyak penyakit sebab tubuh orang sekarang kekurangan enzim, maka orang mengejar sayuran dan buah-buahan segar saja.

Orang meninggalkan menu yang bahan bakunya disimpan lama, atau yang diolah secara berlebihan, atau dengan cara serta alat masak yang berbahaya kandungan bahan logamnya, dan tingkat pengapiannya.

Belum terlambat kampanye menu sehat dan makanan aman di sekolah, selain mendorong peran media massa dan televisi khususnya.

Bahwa kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. Bahwa meja makan ibu yang menentukan hari depan kesehatan keluarga. Jajanan sehat itu makanan alami yang serba direbus, dikukus, atau disangrai.

Demi tujuan menginvestasi generasi yang sehat, lidah anak perlu disetel ulang. Jangan sampai lagi kita membangun ”generasi kerupuk” dan kelompok usia produktif yang pada akhirnya nanti sampai (harus) mati prematur oleh stroke, jantung koroner, dan kanker hanya karena sejak kecil membiarkan mereka salah memilih menu dan jajanan.

Read More ..

22 Februari 2009

Acara Kuliner Enggak Ada Matinya

Kompas Minggu menurunkan tulisan acara televisi sbb. :

Tahun terus berganti. Acara kuliner tetap bertahan di layar kaca. Rupanya, penggemar acara yang berkaitan langsung dengan urusan perut ini tergolong loyal.

Di Trans TV, acara Gula-gula asuhan Bara Pattirajawane dan Wisata Kuliner asuhan Bondan Winarno masih tetap berkibar. Kedua acara ini masing-masing ditayangkan sejak tahun 2005 dan pertengahan 2006. Belakangan, stasiun ini juga meluncurkan acara kuliner baru Ala Chef yang diasuh Farah Quinn.

Indosiar masih mempertahankan acara Bango Cita Nusantara yang tayang sejak tahun 2007. Sebelumnya, acara tersebut diputar di Trans TV sejak awal tahun 2005.

Di Metro TV, acara masak asuhan William Wongso juga masih ada. Awalnya, acara itu bernama Cooking Adventure With William Wongso, kemudian berganti nama menjadi Cita Rasa William Wongso. Acara itu, hingga pekan lalu, telah memasuki episode ke-96.

Di TPI, Santapan Nusantara telah bertahan 13 tahun. Stasiun yang identik dengan dangdut ini, mengeluarkan lagi tiga acara kuliner lainnya, yakni Koki Kikuk, Sooo Puas, dan Emak Mencari Anu.

Sementara itu, di Trans7, ada Koki Cilik. Selain itu, Trans7 menyisipkan segmen kuliner asuhan Chef Rustandy di program berita Selamat Pagi.

Di RCTI, acara kuliner justru menghilang. Padahal, stasiun televisi swasta pertama ini pernah memiliki ikon acara kuliner Selera Nusantara asuhan Rudy Choirudin yang bertahan lebih dari satu dekade.

Mengapa acara kuliner bertahan dan tidak timbul tenggelam mengikuti tren seperti acara-acara lainnya? Kepala Departemen PR Marketing Trans TV Hadiansyah, Kamis (18/2), mengatakan, acara kuliner memiliki segmen pasar yang cukup luas dan mampu menarik iklan.

”Dari sisi rating, acara kuliner saat ini tidak besar, paling mentok 2. Tapi, acara ini punya penonton loyal, terutama ibu-ibu,” katanya.

Humas Indosiar Gufroni mengatakan hal senada. ”Acara kuliner itu bisa menjadi salah satu ikon, jadi kami tidak akan menghilangkannya.”

Konteks sosial

Meski bertahan cukup lama, pendekatan acara-acara kuliner di televisi nasional sejatinya tidak banyak berubah. Kebanyakan masih sebatas bagi-bagi resep atau mengajak pemirsa mencicipi makanan di tempat tertentu.

Sebagian juga masih mengandalkan selebriti untuk menarik perhatian penonton meski pengetahuan mereka tentang kuliner kadangkala pas-pasan. Akibatnya, sebagian dari mereka hanya mampu mengapresiasi makanan dengan kalimat, ”Masakannya enak banget. Rasanya manis, gurih, sedikit asin.”

Namun, ada beberapa acara kuliner yang memberikan informasi dan edukasi cukup baik mengenai dunia kuliner. Salah satunya adalah acara Cita Rasa William Wongso.

William tidak hanya mempraktikkan kepiawaiannya memasak, tetapi, lebih jauh, dia berusaha memberikan konteks sosial-budaya atas kegiatan kuliner. ”Buat saya, kalau acaranya hanya masak, tidak banyak gunanya karena memasak itu hanya salah satu dari sebuah proses panjang,” kata William, Kamis, di sela-sela shooting.

Karena itu, William mengawali acaranya dengan ”bertamasya” ke pasar tradisional. Sambil menjelaskan bagaimana memilih bahan-bahan masakan yang baik, dia juga akan bercerita keunikan masing-masing pasar yang dia kunjungi.

Kelihatannya, ini seperti jalan-jalan biasa. Namun, sebenarnya kita sedang diajak menyelami akar tradisi kuliner di daerah tertentu.

Dari sudut pasar tradisional yang semrawut, dia berusaha menemukan makanan khas di sana. Lalu, berbincang-bincang seputar makanan itu dengan pedagangnya. William juga mampu menjelaskan pengaruh budaya tertentu yang terkandung dalam sejumlah masakan yang dia cicipi.

Di segmen terakhir, William mencoba memasak makanan lokal yang dia temui di pasar tertentu dengan interpretasinya sendiri.

Segmen kuliner di Selamat Pagi Trans7 juga memberikan edukasi cukup baik. Di segmen itu, Chef Rustandy tidak hanya menunjukkan bagaimana cara memasak sebuah menu dengan baik. Namun, dia juga menghitung nilai gizi dan kalorinya.

Acara kuliner memang sebaiknya terus mencari pendekatan-pendekatan baru yang sesuai dengan kebutuhan pemirsa. Membagi resep atau mengajak berwisata makanan tidak lagi cukup.

Read More ..

20 Februari 2009

KPID Jabar Periksa Dua TV Lokal

Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat (Jabar) sedang memeriksa dua televisi swasta lokal Jabar yang diduga tidak melakukan pemberitaan secara berimbang atas peserta Pemilu 2009.

"Kedua stasiun TV itu memberikan waktu penuh (blocking time) dalam acara talkshow kepada hanya satu partai politik. Menurut aturannya, hal itu tidak diperbolehkan," ujar Ketua KPID Jabar Dadang Rahmat Hidayat, Rabu lalu.

Bila kedua stasiun TV terbukti melakukan blocking time, KPID Jabar akan memberikan sanksi berupa teguran hingga sanksi terberat berupa pertimbangan untuk tidak memperpanjang izin penyiaran lembaga penyiarannya.

Sebelumnya, beberapa waktu lalu, KPID Jabar juga telah menegur dua stasiun radio swasta lokal Jabar dan satu radio komunitas dengan kasus serupa. (KPI)

Read More ..