08 Juli 2008

Tidak Ada Gegap Gempita PON di Layar TV Kita?

Seorang kawan berkata, "Saya menonton TV tidak terlalu sering, tapi pasti setiap hari menyalakan TV, hanya saja waktunya yang tidak tetap", begitu kira-kira ia mengawali pembicaraan kepada saya. Lalu ia melanjutkan, "walaupun begitu, pada saat musim Piala Eropa kemarin, saya hampir selalu menemukan tayangan siaran Piala Eropa, baik itu berupa tayangan ulang, berita atau live pada malam hari". Saya manggut-manggut saja, "Itu tidak hanya ada di station RCTI, TPI dan Global saja lho!", tambahnya.

Singkat cerita, kawan saya itu hendak menyampaikan bahwa, sekarang ini sedang ada Pesta Olahraga Nasional ke XVII di Kalimantan Timur, tapi setiap kali ia menyalakan pesawat televisinya, ia belum pernah menemukan siaran tentang PON tersebut, entah itu tayangan langsung pertandingan atapun pemberitaannya.

Saya manggut-manggut lagi, betul juga apa kawan saya bilang ini. Saya pun karena kesibukan lain, beberapa kali menonton TV, tapi memang belum pernah menemukan PON sedang ditayangkan di TV kita. Saya tahu PON hanya dari situs Radio Elshinta yang selalu saya buka di internet setiap malam, tapi di layar TV, kayaknya memang belum pernah.

Kemana gegap gempita Olahraha Nasional kita? Ah, pantas saja kalau olah raga kita melempem, ternyata dukungan media tidak sebesar Piala Dunia atau Piala Eropa! Apakah karena kurang komersial? Komersial atau tidak itu tergantung para pekerja media dan penyelenggara itu sendiri sebetulnya. Itu adalah tantangan kreatifitas mereka. Tapi saya sebagai orang biasa, ternyata sudah beberapa hari ini saja belum menemukan siaran PON di layar TV kita, walaupun ditonton secara acak.

Saya yakin ada siaran PON di TV kita, tidak mungkin tidak, apalagi pada siaran TV nasional, hanya saja eksposurenya kurang. Mungkin asal ada saja. Itulah yang saya maksud tidak ada dukungan yang bagus untuk Olah Raga Nasional. Jadi, selamat hanya menjadi bangsa penonton Piala Eropa atau Piala Dunia saja. Bukan sebagai bangsa yang ikut di tonton dunia dalam bidang olah raga.

Makanya jangan heran kalau berita PON miring melulu, misalnya : Dua hari mau bertanding, Venue belum selesai dibangun, Hakim garis pake sandal jepit karena seragam belum tiba, Catering terlambat, atlit pun kelaparan, Penginapan yang sulit dicari sehingga pada kesasar, ah masih banyak lagi cermin ketidakprofesionalan bangsa ini dalam menangani event PON. Sedih juga, mungkin ada bagusnya kalau media memang tidak mengekspos kebobrokan tersebut.

5 komentar:

Anonim mengatakan...

JANGAN BERHARAP SAMA PRESTASI NEGERI INI DEH. MENDINGAN MIKIRIN YANG LAIN AJA

Antonius Bram mengatakan...

waktu itu saya nonton acara sukma, sukan malaysia, ponnya malaysia dan mereka tidak hanya menayangkan acara tersebut di rtm, tvrinya malaysia tapi juga di stasiun swasta seperti tv3 dan tv7 padahal kedua stasiun tersebut merupakan official broadcaster euro 2008 di sana dan juga dua stasiun terpopuler di sana.

day mengatakan...

ok

Anonim mengatakan...

Atlet kita jauh dari standar Olimpiade, lantas siapa yang mau dikirim ke Beijing? Ah, paling cuma jadi pengalaman piknik mereka saja... Ayo cambuk prestasi!

Komentar Bebas Buat Seleb mengatakan...

Walah, jangan ngarepin atlet kita dulu deh. Mereka masih mikiran dapaet apa kalo jadi atlet. Gak rela hidup susah dulu, tapi bener juga sih, siapa yang mau coba?!