30 Maret 2008

Kisah Selebriti Gagal, Korban Acara Televisi

Hari Minggu, 30/03/2008, Kompas menulis artikel yang mengenaskan, berjudul "Kisah Selebriti Gagal". Yang belum sempat membaca, ini saya kutipkan sbb. :

Setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, Muhammad alias Ian Kasolo (39) tampil di televisi sebagai ”selebriti” yang tampak glamor. Kini, dia terpaksa bekerja serabutan sebagai pengantar makanan di sebuah usaha katering rumahan.

Ini bukan cerita sinetron, namun sebuah kisah nyata. Ian Kasolo yang dulu sempat menjadi ikon acara kontes menyanyi Dangdut Mania I di stasiun TPI bersama Siti Pijat, Ju pri Asong, dan Agus Kenek, kini jauh dari dunia glamor. Hidupnya bisa dibilang terkatung-katung tanpa pekerjaan dan uang.

Kini, Ian menumpang di rumah Ucok Koki yang juga peserta Dangdut Mania I. Di rumah ini, dia membantu istri Ucok yang menjalankan usaha katering rumahan. Setiap pukul 05.00, Ian bangun dan membantu memasak. Sekitar pukul 07.00, dia keliling mengantarkan rantang berisi makanan pesanan ke pelanggan. ”Ya, beginilah kegiatan saya. Yang penting saya punya tempat berteduh dan bisa makan,” ujar Ian. Sebelum ditampung di rumah Ucok Koki, Ian sempat menggelandang dan tidak makan dua hari karena tidak mempunyai uang.

Bagaimana kehidupan Ian berubah drastis dalam setahun? Semua ini bermula ketika Ian melihat iklan kontes menyanyi yang seolah-olah bisa menyulap siapa saja menjadi artis terkenal dengan cepat. Ian yang merasa punya bakat menyanyi dangdut dan akting memutuskan ikut salah satu kontes itu. Pilihannya jatuh ke acara Dangdut Mania I.
Singkat cerita, bujangan asal Solo, Jawa Tengah, itu lolos audisi dengan menyingkirkan ribuan peserta dan berhak mengikuti kontes di Jakarta. Karena mimpi menjadi artis begitu besar, pemuda lulusan SMA ini rela meninggalkan pekerjaan tetap sebagai kurir di bank swasta di Solo yang memberinya penghasilan sekitar Rp 1 juta per bulan.

Awalnya semua berjalan sesuai mimpi. Di Jakarta, Ian dan 19 peserta Dangdut Mania lainnya diperlakukan layaknya artis. Produser Dangdut Mania I mengubah nama Muhammad menjadi Ian Kasolo karena wajahnya dianggap mirip vokalis band Radja, Ian Kasela. Penampilannya pun dipermak. Rambutnya dicat kuning acak. Dia juga diberi kostum dan kaca mata hitam seperti yang biasa dikenakan Ian Kasela. ”Kami juga diperlakukan seperti raja. Kami tinggal di sebuah vila. Mau makan di restoran mana saja tinggal bilang,” ujar Ian mengenang.
Kemewahan semacam itu baru pertama kali Ian rasakan. Pasalnya, kehidupan Ian selama di Solo jauh dari mewah. Dia tinggal berjejalan di sebuah rumah petak berukuran 3 x 4 meter persegi bersama ibu, kakak, dan seorang keponakan.

Pengalaman bersentuhan dengan kemewahan itulah yang membuat Ian semakin bertekad untuk menjadi artis terkenal dan dia merasa pintu itu terbuka baginya. ”Bayangkan, setiap kali saya nyanyi, orang- orang memanggil nama saya. Ketika promosi, orang rebutan minta tanda tangan dan foto saya. Saya juga masuk koran,” kata Ian yang terkenal dengan ”goyang suster ngesot”.

Ian makin berbunga-bunga ketika mendengar isu pemenang Dangdut Mania I akan dikontrak menjadi artis TPI. ”Saya semakin bertekad memenangi kontes ini. Karena itu, tiap minggu saya ngebom SMS,” katanya. Ngebom SMS yang dimaksud adalah mengirim SMS sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri agar perolehan suaranya terdongkrak. ”Saya bisa menghabiskan uang Rp 5 juta untuk beli voucher pulsa telepon setiap minggu. Kalau ditotal, selama acara ini saya habis Rp 30 juta,” kata Ian yang memperoleh uang sebanyak itu dari pinjaman keluarga dan lintah darat.

Hal itu dilakukan juga peserta lain. Ida Nyonya mengaku menghabiskan Rp 20 juta untuk ngebom. Hasilnya, nihil. Ian dan Ida akhirnya tereliminasi juga. ”Kalau tahu jadinya begini, saya tidak akan menghabiskan uang jutaan. Sekarang terkenal tidak, terlilit utang iya,” ujar Ian.
Manajer Humas TPI Theresia Ellasari mengatakan, pihaknya telah berkali-kali berpesan kepada peserta kontes menyanyi agar tidak usah berlomba mengirim SMS untuk dirinya sendiri. ”Itu tidak ada gunanya sebab pemenang ditentukan SMS kiriman pemirsa yang jumlahnya jutaan,” katanya.

Korban Mimpi
Harapan menjadi artis terkenal sempat muncul lagi ketika Ian diajak TPI main sinetron, menyanyi pada acara off air dan jadi bintang iklan dengan bayaran Rp 500.000-Rp 1.500.000. Namun, setelah itu masa-masa manis menjadi selebriti benar-benar berakhir. Tidak ada lagi order manggung dari TPI.

Setelah itu, Ian kadang ikut manggung di kampung-kampung bersama Ucok Koki atau Pardi Hallo, peserta Dangdut Mania I yang sekarang menjadi penyelenggara konser dangdut kecil-kecilan. Bayaran yang diterima Ian sekitar Rp 100.000-Rp 200.000 sekali tampil. Namun, order seperti ini tidak selalu datang tiap minggu.

”Saya sempat frustrasi dan mau bunuh diri. Mau pulang ke Solo saya malu karena keluarga dan teman-teman sudah telanjur menganggap saya sebagai artis sukses yang banyak duit,” katanya.
Nasib serupa juga dialami Jupriadi alias Jupri Asong dan Ida Nyonya. Jupri mengaku, setelah menjadi juara II Dangdut Mania I, dia berhenti mengasong. ”Kata teman-teman, saya tidak pantas lagi mengasong sebab saya sudah jadi artis,” ujarnya.

Jupri Asong pun mencoba mengandalkan hidup dengan menyanyi. Namun, undangan menyanyi belum tentu muncul satu bulan sekali dengan bayaran paling besar Rp 500.000. ”Akhirnya, uang hadiah yang jumlahnya sekitar Rp 28 juta habis untuk makan keluarga. Sekarang saya benar-benar miskin. Mau ngasong lagi, saya tidak punya modal,” ujar Jupri yang harus menghidupi istri dan tiga anaknya.

Kini, Jupri berniat menjual rumah tipe 21 miliknya di Tangerang yang merupakan harta dia satu-satunya saat ini. Uangnya akan digunakan untuk modal berdagang lagi. ”Saya benar-benar kapok ikut acara semacam ini. Saya kira, pemenangnya akan diorbitkan jadi artis.”
Theresia mengatakan, TPI tak pernah berjanji mengorbitkan peserta Dangdut Mania I menjadi artis. ”Kami hanya memberi kesempatan kepada mereka untuk tampil di televisi. Kalau mereka disukai penonton dan kemudian jadi artis, itu adalah bonus,” katanya.

Ya, inilah drama dari sebuah kebudayaan instan yang terus direproduksi televisi melalui kontes menyanyi, idola-idolaan, mama-mamaan, dan juga sinetron. Sebuah kebudayaan yang selalu memberikan mimpi bahwa sukses dan popularitas bisa diperoleh dalam waktu singkat.
Sialnya, karena gempuran mimpi-mimpi itu kian gencar, banyak orang tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Kisah Ian Kasolo, Jupri Asong, dan Ida Nyonya hanyalah contoh kecil.

Catatan Moderator Blog Dunia TV :
SEMOGA ARTIKEL KOMPAS DIATAS DAPAT MENJADI BAHAN PERTIMBANGAN BAGI MASYARAKAT UNTUK TIDAK MENGEJAR MIMPI YANG BELUM PASTI. JANGAN MUDAH TERGIUR DENGAN JANJI MANIS DAN PENAMPILAN DILAYAR KACA. KARENA MAYORITAS YANG TAMPIL DI TELEVISI ADALAH REKAYASA.

Read More ..

23 Maret 2008

TV Lokal Sebaiknya Hindari Paradigma Lama

Dalam penyusunan program, khusunya untuk stasiun televisi lokal, sebaiknya hindari penyusunan program atau format acara yang berdasarkan pemikiran atau paradigma lama.

Yang saya maksud "paradigman lama" adalah "berpikir seolah-olah televisi ini adalah satu-satunya stasiun televisi di kota ini", sehingga perlu merangkul seluruh lapisan masyarakat untuk mendapatkan jumlah penonton sebanyak-banyaknya. Rating hah?! No way!

Maaf, bukan mau menggurui, biasanya dengan pola pikir seperti itu, akan menggiring kita masuk ke wilayah 'daily lifestyle audience' sehari-hari. Ujung-ujungnya, sang programmer merasa sudah kreatif dengan menambahkan kata "Keluarga" dalam slogan stasiun TV-nya.

Keluarga, artinya maka mau tak mau harus ada acara untuk anak, remaja, kaum ibu, kaum bapak, pembantu, kaya miskin dan lain sebagainya. Pemikiran itu adalah pemikiran semua programmer TV di Indonesia saat ini.

Saat sekarang, berpikir seperti itu sama dengan membendung kreatifitas dan hanya mengikuti air mengalir! Dapatkan air melawan arus? Dapatkah air mengalir naik?

Cara pandang seperti itu akan lebih parah jika jatuh pada seorang prgrammer stasiun TV lokal, yang notabene TV tersebut adalah milik masyarakat setempat dimana stasiun tersebut berada.

Tapi, saya juga bukan hendak mengatakan bahwa stasiun TV lokal adalah stasiun TV tradisional atau fokusnya pada acara-acara budaya lokal dengan bahasa daerah melulu. Tidak, bukan itu! Menurut saya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menemukan jati diri baru sebagai sebuah stasiun TV lokal. Ketajaman format, fokus program dan susunan acara sehari-hari, bisa berada pada satu hal, dua hal, mix antara satu hal dengan hal lainnya dan lain-lain.

Saat ini cukupmudah mencari penyedia 'content' gratis, yang cocok dengan format program yang hendak dituju, asalkan sudah ada arah dan tujuan yang "beda" dengan yang sudah ada.

Ingat, TV lokal bukanlah satu-satunya stasiun TV yang akan ditemui oleh masyarakat daerah setempat. TV lokal tetap bersaing di daerah tersebut dengan TV 'nasional' yang sudah lebih dulu eksis. Itu harus dipikirkan oleh pengelola stasiun TV. Jangan berdalih dengan lemahnya modal dan jangkauan atau rating.

Magnit daya tarik TV Anda, ada di salah satu sudut kepala Anda! Temukan! Saya tunggu!

Read More ..

20 Maret 2008

KPI Umumkan Lima Program Terbaik dalam Program "KPI Award"

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bekerjasama dengan Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) menyelenggarakan KPI Award 2007.

KPI Award 2007 ini memberikan penghargaan bagi lima program terbaik yang ditayangkan televisi sepanjang tahun 2007. Malam puncak penganugerahan KPI Award yang dilaksanakan di Crowne Plaza Hotel 18/3/2008 malam, yang juga dihadiri oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Para juri KPI Award kali ini juga merupakan tokoh-tokoh yang ahli di bidangnya masing-masing. Juri kategori Dokumenter : Ilham Bintang, Tedja Bayu, Slamet Rahardjo. Juri kategori Sinetron Lepas : Leila S. Chudori, Pinckey Triputra, Arswendo Atmowiloto. Juri kategori Berita dan Investigasi : Yopie Hidayat, Suryopratomo, Bambang Harimurti. Juri kategori Acara Anak : Sunarto, Bobby Guntarto, Seto Mulyadi. Juri kategori Bincang-bincang (talkshow) : Sumita Tobing, Wimar Witoelar, Dedy N. Hidayat.

Para juri telah memilih pemenang dari program-program yang dikirim 11 stasiun TV yang bersiaran nasional.

Pemenang untuk kategori anak adalah Surat Sahabat episode “Cerita dari Pagar Utara Indonesia” (Trans TV) dengan nominator lainnya After School (RCTI), dan Bocah Petualang episode “Bolang Perung Sumbawa” (Trans 7).

Pemenang untuk kategori dokumenter adalah Teropong episode “Jalanan, Pilihan Ekstrim Mereka” (Indosiar) dengan pesaing Jejak Petualang episode Masyarakat Pemburu Paus (Trans 7) dan Urban episode “Manusia Jembatan”(RCTI ).

Program terbaik kategori berita investigasi diraih Program Telisik episode ”Bisnis Narkoba dalam Penjara” (ANTV) dengan nominator lain Redaksi Sore episode Investigasi Sapi Glonggongan (Trans 7) dan Reportase Investigasi episode ”Kemana Larinya Daging Celeng Hasil Buruan?”(Trans TV).

Kategori program Talkshow terbaik adalah ANTV dengan program Topik Kita episode ”Aliran Sesat”. Pesaing ANTV dalam kategori talkshow adalah Topik Minggu Ini episode Kontroversi Al Qiyadah (SCTV), Ramadhannya Farhan Episode 7 (ANTV), Today’s Dialogue : Kaum Muda Siap Menantang (Metro TV).

Pemenang Sinetron Lepas adalah ANTV dengan program I-Sinema episode ”Siapa Sayang Lila” dan pesaingnya adalah Anak-anak Surga : Biarkan Aku Memilih (Lativi), dan Kisah Sedih Gadis Badut (RCTI ).

Selamat kepada semua pemenang. Saran saya untuk KPI Award tahun depan adalah :
1. Mengumumkan "Program Terburuk" dari kategori yang sama. Hal tersebut dapat diseleksi melalui komplain masyarakat terhadap tayangan-tayangan yang tidak mendidik yang mengandung unsur mistik, pornografi, kekerasan, pelecehan dan berita-berita yang tidak akurat. 3. KPI Award untuk program-program televisi lokal. Tentu saja program yang kuat unsur lokalnya. Dan terakhir, yang ke 3. KPI Award juga diberikan kepada media Radio. Kan yang namanya penyiaran bukan hanya televisi! Kategorinya terserah KPI.

Read More ..

19 Maret 2008

Wapres Minta KPI Tertibkan Monopoli Kepemilikan Televisi

Peraturan tentang kampanye parpol di televisi belum jelas seperti apa bentuknya, kini ada lagi berita tentang Wakil Presiden Jusuf Kalla yang meminta kepada Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk melakukan penataan serta penertiban atas kemungkinan terjadinya monopoli atau kepemilikan terpusat dan kepemilikan silang atas saham lembaga penyiaran televisi.

Seperti itulah yang termuat di harian Kompas, 18 Maret 2008 halaman 15. Permintaan Wapres JK itu disampaikan oleh Don Bosco Selamun, Koordinator Bidang Perizinan KPI kepada para wartawan.

Dari pemberitaan tersebut, saya melihat, baik Wapres maupun KPI, sepertinya masih ragu terhadap fakta monopoli kepemilikan saham lembaga penyiaran televisi. Terbukti tidak disebutnya siapa dan grup mana yang telah melakukan monopoli, seperti yang dimaksud.

KPI hanya akan melihat lebih jernih. Kalau ada ya akan ditata. Ada atau tiada belumlah jelas, mungkin seperti itu maksudnya?

Lha, sekarang KPI mau melihat monopoli dari sisi mana? Dari sisi 'de facto' (fakta yang terekam di masyarakat) atau dari sisi 'de jure' (fakta hukum)?

Kalau de facto, jelas masyarakat sudah tahu bahwa RCTI, TPI dan Global TV itu adalah punyanya Hary Tanoe dari Grup MNC. Kan ada logo MNC disetiap stasiun TV tersebut!.
Namun dari sisi de jure atau sisi fakta hukum, belum tentu terdapat nama Hary tanoe di akte perusahaan itu? Begitu juga pada ANTV dan tvOne. Trans TV dan Trans 7. Beberapa TV Lokal dari Bali Post Grup(Bali TV) dan Jawa Pos Grup (JTV). Atau nanti Indosiar dengan SCTV?

Andaikan secara de facto, RCTI yang satu grup dengan TPI dan Global TV itu termasuk dalam kategori "monopoli", seperti yang dimaksud oleh Wapres, apakah KPI punya nyali menertibkan "monopoli" tersebut?

Karena kita tahu, Investasi dan pembelian saham dari para konglomerat tentu sudah ratusan miliyar rupiah atau bahkan triliunan. Pasti mereka tidak ingin uangnya lenyap begitu saja.

Sebagai orang awam, saya pakai logika saja, coba tengok peraturan atau UU yang ada pada saat transaksi tersebut terjadi. Apakah transaksi tersebut legal menurut hukum saat itu? Jika tidak, tentu ada sanksi seperti yang tercantum dalam Undang-undangnya. Terserah mau dilihat dari UU Penyiaran atau UU Persaingan Usaha. Kalau transaksi tersebut ternyata legal, maka yang perlu dipikirkan adalah jalan keluar agar larangan monopoli yang sekarang ada, tetap berwibawa.

Satu hal lagi yang menggelitik saya adalah, keinginan Pak Wapres yang disampaikan kepada KPI bisa diartikan berbeda oleh lawan politiknya. Karena menjelang Pemilu 2009, tiba-tiba saja mempermasalahkan monopoli lembaga penyiaran televisi. Mau ditata atau didata? Ada apa?

Read More ..

18 Maret 2008

Saluran 'The Indonesian Channel' Masuk ke Singapura

Mulai 17 Maret 2008, pelanggan TV kabel StarHub di Singapura dapat menonton saluran "The Indonesian Channel". StarHub adalah pemimpin pasar terbesar operator TV Berlangganan di Singapura, yang bekerjasama dengan MNC, sebuah grup media yang memiliki RCTI, TPI dan Global TV dan berbagai media lainnya di Indonesia.

"The Indonesian Channel" menyiarkan acara-acara yang juga disiarkan di RCTI, TPI dan Global TV, seperti Sitkom, Sinetron, Film Televisi, Dokumenter, Variety Show, Musik, Reality Show, dll. Pelanggan mereka dipungut bayaran $8 untuk menonton saluran tersebut.

Kabarnya, Singapura adalah negara kedua setelah Jepang dan akan terus diperluas hingga ke penayangan saluran program tersebut ke Dubai dan Jedah. Mereka akan terus menguber dinegara mana ada orang-orang yang berbahasa Indonesia, karena saluran "The Indonesian Channel" menyiarkan acara-acara berbahasa Indonesia.

Saya pikir, ini adalah salah satu terobosan balasan atas meluapnya penetrasi media-media asing di Indonesia. Sesuatu hal yang bagus ini, harusnya dilakukan oleh banyak pihak. Saya mengerti proyek seperti ini butuh biaya besar, tetapi nilai strategisnya bagi Indonesia jauh lebih berharga untuk memperkenalkan budaya, priwisata, informasi dan pandangan politik Indonesia. Harusnya ada grup media lain juga, seperti TVRI atau grup swasta lainnya.

Hanya saja perlu positioning yang lebih jelas bagi masing-masing saluran dari Indonesia. Agar program tersebut tidak sekadar 'mendaur ulang sampah', maka harus disiapkan content-content yang eksklusif dengan menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya.

Terakhir dari saya adalah, jika Idealisme dan Nasionalisme adalah basic thinking-nya MNC dalam menggarap proyek tersebut, maka MNC tidak akan berkeberatan untuk menjadi koordinator atas program-program yang akan ditayangkan. MNC bisa membeli atau bekerjasama dengan televisi lain, yang juga punya program bagus untuk ditayangkan di saluran tersebut.

Jika tidak, masyarakat Indonesia perlu khawatir karena wajah Indonesia di luar negeri, tidak dapat diwakili oleh hanya satu pandangan dari satu pihak yang bernama Grup MNC. Itu namanya bukan "Wajah Indonesia di Luar Negeri", tetapi "Wajah MNC di Luar Negeri". Hati-hati!

Read More ..

10 Maret 2008

Perlukah Regulasi Kampanye Media?

Di Kompas edisi Senin, 10/03/2008 hal. 6, pada rubrik Opini dimuat tulisan dari Agus Sudibyo (Deputi Direktur Yayasan SET Jakarta) berjudul "Regulasi Kampanye Media". Dalam tulisan tersebut lebih banyak mempermasalahkan peraturan kampanye partai politik menjelang dan pada saat Pemilu berlangsung. Siapa yang harus mengatur, KPI atau KPU? Kira-kira seperti itulah maksud yang saya tangkap dari tulisan tersebut. Maaf kalau salah.

Karena media elektronik, khususnya televisi adalah media yang paling besar menerima order iklan pada saat-saat kampanye, maka blog ini jadi terusik juga ingin ikut berkomentar.

Pertama, sebagai orang awam, yang terbersit pertama kali jika regulasi itu nanti dibuat oleh institusi manapun adalah, apakah regulasi itu dijamin fair bagi semua pihak, baik bagi partai politik, media maupun masyarakat?

Saya hanya setuju regulasi yang berdasarkan etika kampanye-nya saja, agar masyarakat dapat belajar cara-cara berdemokrasi yang santun, jujur dan bertanggungjawab. Kalau saya benar, mestinya itu adalah tugas dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Selebihnya, saya pikir biarkan saja hukum alam dan hukum pasar yang berlaku pada masalah ini. Siapa saja boleh beriklan di TV atau media mana saja, asal punya uang untuk membayarnya.

Sedangkan apa isi iklannya, biarkan masyarakat yang menilai. Tidak perlu diatur apakah terselubung atau tidak, harus sekian menit atau harus sekian rupiah, jelas itu tidak fair. Karena tidak semua partai punya budget yang sama untuk beriklan. Begitu juga dari sisi stasiun TV, mereka mempunyai permasalahan sendiri. Setiap stasiun TV berbeda-beda fasilitas, kreatifitas, rate iklan, rating maupun kepentingan-kepentingan, termasuk kepetingan politik si pemiliknya.

Kedua, dari sekian banyak partai di Indonesia, bila waktu berkampanye tiba nanti, saya sudah dapat menduga-duga partai mana saja yang mampu membeli air-time lebih banyak di televisi.
Semudah saya menduga, berapa persen kira-kira mereka akan mendapat suara dari rakyat Indonesia, dengan beriklan atau tidak di televisi.

Jadi, memikirkan regulasi kampanye di media televisi (khususnya), selain yang berkaitan dengan etika periklanannya, menurut saya adalah hal yang mubazir!

Read More ..

08 Maret 2008

Republik Mimpi, Mimpi Sana Mimpi Sini

Acara "Republik BBM" yang dulu disiarkan di Indosiar bersama Alm. Taufik Savalas, Ucup Kelik, Effendy Gazali, dkk. ternyata harus di stop menjelang Siaran Piala Dunia tahun 2006. (CMIIW/Koreksi saya jika salah). Padahal acara itu merupakan cikal bakal program yang mencerahkan, terlepas orang suka atau tidak karena ke-sinis-annya.

Setelah tidak di Indosiar lagi, acara tersebut kemudian muncul di Metro TV. Formatnya agak sedikit berbeda dari yang di Indosiar. Nama acaranya juga berbeda, yaitu Kantor Berita NewsDotCom "Republik Mimpi", begitu juga para pengisi acara yang diantaranya Presiden Republik Mimpi, diperankankan oleh Butet dan Jarwo Kwat sebagai Wapres. Yang tetap sama adalah Effendy Gazali yang diacara itu berperan sebagai penasehat Presiden Republik Mimpi.

Namun entah apa yang terjadi, yang jelas sandungan kasus hukum menimpa Jarwo Kwat. Ia dituduh membayarkan cek kosong, lalu acara ini pun tutup layar dari Metro TV.

Seperti sudah menjadi kebisaan, sewaktu Republik BBM hengkang dari Indosiar ke Metro TV, Indosiar tetap menayangkan acara tersebut dengan format berbeda dan namanya juga diganti menjadi Istana BBM. Begitu juga ketika NewsDotCom Republik Mimpi hengkang dari Metro TV, tetap ada acara pengganti sejenis bernama DemoCrazy yang diperankan oleh Ucup Kelik yang tetap sebagai Wapres, Iwel yang tadinya juga ikut Effendy Gazali di Republik Mimpi. Hanya saja saya belum jelas, Republik apa lagi yang di DemoCrazy itu. Namun melihat dari format acaranya, sepertinya Democrazy itu juga kepanjangan tangan dari acara NewsDotCom Republik Mimpi. Apakah mungkin acara itu satu manajemen dengan Republik Mimpi? Jika iya, berarti ini suatu kemajuan dari Production House yang memproduksi Republik Mimpi, bisa menjual acara-acara serupa kebeberapa stasiun televisi. Jika tidak? (berpikir sebentar...)

Seperti yang sudah saya lihat, kini acara Republik Mimpi hijrah ke tvOne bersama pionirnya, Effendy Gazali yang juga tetap didukung oleh Jarwo Kwat, Gus Pur, Megakarti, Habudi dan juga pembawa acara Olga Lidya.

Jika bukan karena satu grup atau satu manajemen, pertanyaan saya adalah kemana lagi acara itu akan melangkah jika tersandung di tvOne nanti?

Mari kita ikuti saja episode berikutnya bersama bung Effendy Gazali and the Gang!

Read More ..

07 Maret 2008

Boneka dan Tema Pornografi Anak di Kick Andy Metro TV

Acara "Kick Andy" episode 6/2/2008 lalu menghadirkan pemain dan boneka-boneka serial Unyil, Tongki, Susan dan Si Komo. Mereka ditampilkan untuk menghiasi tema Pornografi dikalangan anak-anak yang baru-baru ini mencuat kembali.

Porsi acara lebih banyak diambil untuk bernostalgia terhadap masa lalu saat bonek-boneka itu populer serta asal muasalnya. Solusi apa yang harus diambil untuk menjaga anak-anak dari pornografi sangat sedikit, padahal boneka-boneka itu diundang dalam rangka mengangkat topik pornografi terhadap anak-anak, dimana televisi merupakan salah satu media yang sering dipersalahkan karena visualnya.

Saya pikir, di acara itu akan dicari solusi melalui cara-cara yang unik, misalnya bagaimana Unyil, Tongki, Susan dan Si Komo mengartikan pornografi dan menghindarinya. Yang ada hanya Kak Seto yang berusaha memberikan tips yang sebetulnya sudah sering disampaikan di media-media. Akhirnya kembali lagi seperti pada tulisan-tulisan saya di blog ini sebelumnya, bahwa jangan percayakan pendidikan anak Anda kepada Televisi, LSM atau Pihak Lain. Pendidikan, pengawasan, perlindungan anak-anak Anda, ada di tangan Anda sendiri.

Read More ..

06 Maret 2008

Presenter Berita Ralph Tampubolon Terasa Mengganggu Saat Membacakan Berita

Sebagai televisi yang cukup konsisten menayangkan berita-berita terkini, Metro TV punya posisi penting dalam menyebarkan informasi yang akurat, berimbang dan jelas.

Yang saya maksud JELAS, bukan hanya dari sisi fakta beritanya, tetapi juga dari sisi penyampaian atau presentasi si pembaca berita atau News Presenter.

To the point saja, saya sangat terganggu dengan cara Ralph Tampubolon membacakan berita. Dalam membaca, dia terdengar 'kumur-kumur', tidak ada intonasi dan sangat datar, sehingga berita penting menjadi tidak berarti bila dibacakan oleh Ralph Tampubolon. Dengan mulut yang tidak 'membuka' saat bicara, memang akan terdengar kumur-kumur. Ditambah lagi mimik wajahnya yang kaku dan tidak ada empathi dalam membacakan berita yang tragis.

Bung Andy Noya dan Bung Makroen, coba Anda evaluasi lagi performa ybs, karena pada malam hari masih cukup banyak yang menunggu berita Headline News-nya MetroTV. Kalau tidak bisa di evaluasi, ya di evakuasi saja. Terima kasih.

Read More ..

05 Maret 2008

Awas Ada TV Monoton Indonesia

Saya senang-senang saja jika banyak stasiun televisi bermunculan di daerah, melengkapi stasiun televisi "nasional" yang telah ada. Saya pikir, toh yang diuntungkan adalah masyarakat. Kita menjadi banyak pilihan, ragam dan referensi dari program-program yang ditayangkan.

Namun, melihat trend kepemilikan perusahaan televisi ada pada tiga atau empat orang atau perusahaan besar, maka saya pesimis masyarakat akan diuntungkan. Yang ada malah mereka mengambil keuntungan dari masyarakat terlalu banyak.

Lihat apa yang mungkin terjadi apabila 2 atau 3 stasiun televisi dimiliki oleh seseorang atau sebuah grup perusahaan :
1. Pembatasan karier atau kesempatan kerja untuk level eksekutif. Lihat tulisan saya sebelumnya tentang para eksekutif TV di Indonesia.
2. Terjadi persamaan selera karena SDM-nya terbatas pada kelompok mereka.
3. Terjadi keseragaman kebijakan dalam pengambilan keputusan dan sikap politik.
4. Saling tukar atau saling relay program (kadang semacam TV Pool).
5. Grup besar biasanya mengontrak artis eksklusif hanya untuk stasiun televisi grup mereka.
6. Yang lebih lucu lagi, identitas grafis pun bisa jadi mirip. Lihat antara antv dengan tvOne?

Mungkin masih ada banyak yang lainnya, Anda mau menambahkan?

Paradigma Sama
Sejauh yang saya amati, paradigma penyusun program televisi di negeri kita, masih mengikuti 'daily lifestyle' masyarakat pada umumnya. Misal, jam 10 untuk Ibu, jam 15 untuk anak-anak/reamaja, petang buat keluarga, tengah malam buat pria dewasa. Lalu acara mimbar agama Islam hari Jum'at, mimbar agama Kristen hari Minggu, ya kurang lebih seperti itulah yang terlihat dari susuanan acaranya sehari-hari.

Bagi saya, menyusun program televisi atau memilih acara apa untuk ditempatkan jam berapa, bukanlah persoalan salah atau benar. Itu lebih kepada selera, kepentingan, pengalaman, wawasan dan latar belakang pergaulan serta kreatifitas sang programmer. Selain mematuhi peraturan dan etika yang berlaku tentunya.

Selama paradigma penyusun program masih seperti diatas, maka siap-siaplah akan datangnya TV Monoton! Monoton karena sinetron dan dangdut adalah kepercayaan mereka dalam mendongkrak rating. Monoton karena berita yang ditayangkan adalah kebijakan dan sikap politik yang sama. Monoton karena 'looks' di layar kaca mirip-mirip semua, baik artisnya maupun design grafis-nya. Ya, pokoknya kita waspada akan datangnya TV Monoton Indonesia.

Read More ..

03 Maret 2008

Pornografi di TV Tidak Sebatas Gambar Paha atau Dada Semata Lho!

Yang sering dimaksud pornografi diacara-acara televisi adalah gambar paha, dada, adegan mesum dan hubungan suami istri. Itu karena orang hanya melihat media Televisi dari sisi Visual. Padahal, unsur Audio di Televisi juga sangat penting. Audio bukan hanya pendukung visual, tetapi kadang-kadang dapat berperan sendirian, tanpa ada hubungannya dengan visual, seperti halnya Radio.

Ingat, pikiran (mind) manusia melalui pendengarannya, dapat menimbulkan daya khayal atau imajinasi yang jauh lebih kuat dan kadang (extremly) nyata dari pada sebuah gambar! Apalagi jika membayangkan kata-kata atau kalimat mesum!

Saya sering menemui dibeberapa episode acara TV, seperti acaranya Tukul "Empat Mata", acara gossip show "Insert" atau acara-acara lawakan dan pelesetan, pembawa acara "kepeleset" (kalau tidak mau disebut "sengaja" agar lucu), menyebutkan kata-kata mesum yang mengandung persepsi pornografi. Misalnya, "Si artis berteriak saat melahirkan, tetapi teriakannya beda dengan saat membuatnya...", atau "Pisang saya warna coklat...", atau "Belalai depannya" dan lain sebagainya. Memangnya penonton akan terus dibilang bodoh dengan pikirannya yang selalu kearah pornografi saat mendengar kata-kata dimaksud? Siapa yang pikirannya porno dan menjualnya untuk mencari keuntungan? Yang lebih parah, kadang ditimpali juga oleh bintang tamu atau diantara mereka yang berada di studio!

Ya, otak manusia. Itulah kuncinya. Sangat dahsyat! Otak itu langsung menggambarkan secara ekstrim dari apa yang didengarnya. Itulah mengapa suara desahan (misalnya : ehmm.. ayo dong mas...ehmm) lebih terasa seksi tergambar di otak pada saat Anda memejamkan mata, padahal di layar televisi, yang mendesah adalah Tessy Srimulat!

Nah, melalui sekelumit contoh diatas, semoga para pengisi acara apapun di TV manapun, dapat menjaga bicara (mulut) dan pikiran. Kebiasaan bercanda dengan crew dibelakang panggung, jangan sampai terbawa di layar televisi. Itulah arti profesional. Bukan hanya ketepatan waktu, bayaran atau honor yang besar seseorang disebut profesional!

Read More ..

02 Maret 2008

Zona 80 Untuk Mengobati Rindu Tahun 80-an

Satu lagi acara pelepas rindu orang-orang tahun 80-an, selain melalui komunitas tahun 80-an, atau mendengarkan lagu-lagu dari CD tahun 80-an. Mulai Maret 2008 ini, Metro TV menyiarkan acara "ZONA 80". Acara tersebut disiarkan setiap hari Minggu, mulai jam 22.05, dipandu pembawa acara Krisna Purwana (pleawk dan penyiar kondang waktu itu) dan Windy Wulandari (mungkin ini anak muda tahun 2000-an, yang akan bertanya ini itu tentang tahun 80-an).

Pada episode pertama, ditampilkan penyanyi Deddy Dhukun, Iis Soegianto dan Ikang Fawzi. Mereka membawakan lagu-lagu hits 80-annya. Ada juga Sys NS yang menjadi ikon kreatif 80-an melalui grup lawak Sersan Prambors dan event BOM (Bursa Orang Muda) waktu itu.

Apakah acara ini dapat melepas rindu untuk orang-orang tahun 80-an?. Mungkin saja, tetapi yang jelas, acara ini memang cocok dengan segmen Metro TV yang rata-rata para pemerhati berita dan informasi terkini.

Acara pelepas rindu seperti ini juga pernah ada di Indosiar dengan nama "Tembang Kenangan", bedanya, Indosiar lebih terfokus hanya pada lagu-lagu memory atau oldies, yang bukan hanya 80-an tetapi juga lagu-lagu dari genre 60-an. Sedangkan porsi waktu diacara "Zona 80" terbagi seimbang antara lagu-lagu hits 80-an dan informasi hal-hal yang pernah populer di tahun 80-an.
Semoga Rumah Produksi yang membuat acara ini tidak kehabisan materi 80-annya, karena kalau mau di explore, era 80-an itu sangat luas. Kan 80-an bukan hanya milik orang-orang Jakarta?

Ini tantangan bagi produser acara tersebut, jika sempit wawasan dan pandangan tentang era 80-an, maka dalam 10 episode saja acara ini akan selesai. Terima kasih.

Read More ..