Tampilkan postingan dengan label Global TV. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Global TV. Tampilkan semua postingan

09 November 2009

Global TV Kena Tegur KPI

Global TV yang menempatkan diri sebagai TV-nya anak muda juga kena tegur. MTV Insomnia Ngajak Sahur yang ditayangkan Global TV mendapat Teguran karena banyak menampilkan pembicaraan berbau seks serta kata-kata kasar dan makian.

Beberapa pelanggaran dalam program ini adalah menampilkan adegan kekerasan dan pelecehan terhadap kelompok tertentu seperti pada episode 8 September terdapat adegan seorang kru banci dikerjai dengan berbagai cara, seperti ditoyor dan dilempar bola. Banyak menampilkan kata-kata kasar dan makian. Seperti “bego”, “dodol”, “lemot”, “monyet”, “babi”, “monyong” serta tidak menampilkan klasifikasi acara.

Untuk itu, program ini melanggar standar program siaran (SPS) KPI Pasal 11, 12, 13, dan 17. Perlu diketahui, beberapa waktu lalu program MTV Insomnia sudah mendapat teguran dan himbauan dari KPI. Untuk itu kami minta agar teguran ini benar-benar diperhatikan dan dipatuhi. Jika Global TV kembali melakukan pelanggaran maka sanksi yang lebih berat akan dijatuhkan sebagaimana dibenarkan oleh UU.

Read More ..

29 April 2009

Surat Pembaca Kompas : Tayangan Mengubah Transeksual

Menarik juga isi sebuah surat di kolom Redaksi YTH, harian Kompas, dengan tulisan sbb. :

Belakangan ini saya merasa terganggu oleh sebuah program di stasiun televisi Global TV yang berjudul Be A Man, yang kini sudah masuk pada tayangan kedua. Acara ini ingin mengubah para transeksual/waria peserta pada acara tersebut menjadi laki-laki tulen. Mungkin bagi pencipta program ini, mengubah transeksual menjadi laki-laki tulen adalah sebuah tugas yang mulia, tetapi bagi saya tidak.

Entah apa yang mendasari para waria/transeksual tersebut untuk mengikuti program ini. Bagi saya ini bukan satu jalan menjadi terkenal, tapi melanggengkan olok-olok dan cemoohan yang jelas-jelas merendahkan derajat diri seorang manusia. Seingat saya, di dalam banyak konvensi internasional mengenai hak-hak asasi manusia yang sudah diratifikasi oleh Indonesia, hak atas seksualitas adalah salah satunya.

Apabila benar kita ingin menjadi negara yang menghargai HAM dan sering kali mengaku-aku sebagai negara yang ramah, program semacam ini jelas seharusnya tidak tayang di televisi. Mohon kepada yang duduk di meja kreatif di televisi swasta yang ada di Indonesia untuk lebih berpikir cerdas ketika merancang sebuah program yang berdampak panjang pada generasi penerus bangsa ini. Cerdas tidak hanya berpikir soal rating dan harus menghibur, tapi juga memerhatikan hak-hak orang lain yang mungkin terlanggar.

Dalam hal ini saya tidak menentang segala bentuk ekspresi dan preferensi seksual manusia karena saya menganggap hal itu alamiah dan pilihan pribadi seseorang. Menghargai mereka yang memiliki preferensi seksual/seksualitas yang berbeda dari kita memang tidak mudah, tapi jika kita tidak memulainya apakah masih adil jika kita meminta orang lain untuk menghargai pilihan kita? Transeksual bukan suatu penyakit, tidak perlu disembuhkan. (WENNY MUSTIKASARI Bukit Pamulang Indah, Tangerang).

Read More ..

19 April 2009

Dream Girls : Mimpi Terkenal untuk Emak

Satu lagi kontes menyanyi muncul di televisi. Namanya Dream Girls D’Show. Janjinya muluk: menyulap ibu-ibu menjadi penyanyi trio terkenal seperti AB Three.

Ini adalah kontes menyanyi secara trio yang ditayangkan Global TV setiap Rabu malam sejak akhir Maret. Seperti kontes menyanyi televisi, Dream Girls menjanjikan jalur cepat menjadi terkenal. Namun, tidak seperti Indonesian Idol yang membidik remaja dan Idola Cilik yang membidik anak-anak, Dream Girls menawarkan mimpi terkenal kepada ibu-ibu alias emak-emak.

Ternyata, ibu-ibu yang ingin terkenal cukup banyak di negeri ini. Audisi Dream Girls di Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Manado, dan Jakarta selalu diserbu ibu-ibu calon peserta. Jumlah peserta audisi mulai dari 600-an orang hingga 1.500-an orang di tiap kota.

”Kami kaget dengan banyaknya ibu-ibu yang ingin ikut, mulai ibu rumah tangga, PNS, karyawan swasta, penyanyi kafe, hingga polwan,” ujar Erick Muchlis, Project Leader Dream Girls, Rabu (15/4).

Bagaimana tidak tertarik, sejak masa promo, Dream Girls telah berjanji akan menyulap trio ibu-ibu menjadi the next diva. Kontes ini juga menjanjikan hadiah berupa rumah impian. Bentuk rumahnya apa tidak dijelaskan. Silakan impikan sendiri.

Tidak hanya itu, pemenangnya juga akan dikontrak Star Media Nusantara, perusahaan yang selama ini mengelola artis-artis Media Nusantara Citra yang membawahkan RCTI, TPI, dan Global TV. Pemenang juga akan dibuatkan album rekaman.

Peluang menjadi terkenal inilah yang menggoda Devvy Wahyuni (37), ibu asal Medan, yang tergabung dalam trio DND bersama Deasy Sitorus (27) dan Noni Silvia (33). Bermodal kegemarannya berkaraoke, Devvy berangkat ke Jakarta meninggalkan tiga anaknya, salah seorang berusia lima bulan.

”Saya ikut kontes ini karena ingin terkenal. Siapa sih yang tidak ingin terkenal?” katanya.

Mia Sani (34), anggota trio Topodade asal Jakarta, ingin memperbaiki nasib melalui Dream Girls. Bersama Nilam Dwi Lestari (33) dan Chrysanti (33), trio ini sebenarnya terbentuk sejak tahun 2004 dan malang melintang di sejumlah kafe. Namun, mereka sulit menembus industri musik nasional karena tidak cantik. ”Di Dream Girls orang-orang yang tidak good looking seperti kami juga bisa tampil,” kata Mia.

Setiap tampil, trio ini selalu mendapat pujian dari juri. Kualitas vokalnya jauh di atas rata-rata peserta lain, bahkan Vina Panduwinata, Rabu malam, mengatakan, trio ini mengingatkan dia pada The Supremes, trio asal AS tahun 1960-an yang diperkuat Diana Ross.

Trio Good L, yang terdiri dari Erika Novita (28), Bebi Utariwati, dan Ita Martini (36), jauh-jauh dari Yogyakarta dengan mimpi sederhana: merebut rumah impian. ”Saya kan masih ngontrak rumah Mas,” kata Erika.

Semakin lama bertahan di Dream Girls, peserta semakin merasa dekat dengan ketenaran. Setiap pekan, mereka tampil di panggung yang gemerlap, muncul di televisi, dikejar-kejar wartawan dan penggemar. Penampilan mereka juga disulap layaknya artis. Mereka dipinjami pakaian dan sepatu yang tampak glamor.

”Wajah mereka kita koreksi agar tidak tampak gemuk,” kata Retno Wulan, anggota tim artistik Sari Ayu Martha Tilaar yang menangani make up peserta.

”Rambut mereka kami tata agar mereka tampak lebih muda dan segar,” tambah Yudi Martono, juga dari Sari Ayu.

Suara dan penampilan mereka pun dipoles habis. Mereka diajari koreografi dan bagaimana menyanyikan lagu nan rancak dengan genit. ”Wah, angan saya melambung. Rasanya sudah jadi artis,” kata Ita.

Sayang, Ita harus mengubur mimpinya menjadi artis sebab pada Rabu malam Good L tereliminasi. Perolehan SMS-nya paling rendah dibanding peserta lain. Inilah drama sebuah kontes mimpi.

”Saya harus kembali ke dunia nyata dan menghapus topeng ini,” kata Ita sambil menunjuk rias wajahnya. Di dunia nyata, Ita adalah PNS di Polda DIY. Dia nyambi sebagai pengamen di hotel dan kafe bersama rekannya di Good L.

Erika harus melupakan rumah impiannya dan menerima kenyataan bahwa dia harus membayar uang kontrak rumah dua bulan lagi. ”Ah, pusing. Duit sudah habis untuk beli pulsa,” ujarnya. (Kompas Minggu)

Read More ..