08 Maret 2008

Republik Mimpi, Mimpi Sana Mimpi Sini

Acara "Republik BBM" yang dulu disiarkan di Indosiar bersama Alm. Taufik Savalas, Ucup Kelik, Effendy Gazali, dkk. ternyata harus di stop menjelang Siaran Piala Dunia tahun 2006. (CMIIW/Koreksi saya jika salah). Padahal acara itu merupakan cikal bakal program yang mencerahkan, terlepas orang suka atau tidak karena ke-sinis-annya.

Setelah tidak di Indosiar lagi, acara tersebut kemudian muncul di Metro TV. Formatnya agak sedikit berbeda dari yang di Indosiar. Nama acaranya juga berbeda, yaitu Kantor Berita NewsDotCom "Republik Mimpi", begitu juga para pengisi acara yang diantaranya Presiden Republik Mimpi, diperankankan oleh Butet dan Jarwo Kwat sebagai Wapres. Yang tetap sama adalah Effendy Gazali yang diacara itu berperan sebagai penasehat Presiden Republik Mimpi.

Namun entah apa yang terjadi, yang jelas sandungan kasus hukum menimpa Jarwo Kwat. Ia dituduh membayarkan cek kosong, lalu acara ini pun tutup layar dari Metro TV.

Seperti sudah menjadi kebisaan, sewaktu Republik BBM hengkang dari Indosiar ke Metro TV, Indosiar tetap menayangkan acara tersebut dengan format berbeda dan namanya juga diganti menjadi Istana BBM. Begitu juga ketika NewsDotCom Republik Mimpi hengkang dari Metro TV, tetap ada acara pengganti sejenis bernama DemoCrazy yang diperankan oleh Ucup Kelik yang tetap sebagai Wapres, Iwel yang tadinya juga ikut Effendy Gazali di Republik Mimpi. Hanya saja saya belum jelas, Republik apa lagi yang di DemoCrazy itu. Namun melihat dari format acaranya, sepertinya Democrazy itu juga kepanjangan tangan dari acara NewsDotCom Republik Mimpi. Apakah mungkin acara itu satu manajemen dengan Republik Mimpi? Jika iya, berarti ini suatu kemajuan dari Production House yang memproduksi Republik Mimpi, bisa menjual acara-acara serupa kebeberapa stasiun televisi. Jika tidak? (berpikir sebentar...)

Seperti yang sudah saya lihat, kini acara Republik Mimpi hijrah ke tvOne bersama pionirnya, Effendy Gazali yang juga tetap didukung oleh Jarwo Kwat, Gus Pur, Megakarti, Habudi dan juga pembawa acara Olga Lidya.

Jika bukan karena satu grup atau satu manajemen, pertanyaan saya adalah kemana lagi acara itu akan melangkah jika tersandung di tvOne nanti?

Mari kita ikuti saja episode berikutnya bersama bung Effendy Gazali and the Gang!

Read More ..

07 Maret 2008

Boneka dan Tema Pornografi Anak di Kick Andy Metro TV

Acara "Kick Andy" episode 6/2/2008 lalu menghadirkan pemain dan boneka-boneka serial Unyil, Tongki, Susan dan Si Komo. Mereka ditampilkan untuk menghiasi tema Pornografi dikalangan anak-anak yang baru-baru ini mencuat kembali.

Porsi acara lebih banyak diambil untuk bernostalgia terhadap masa lalu saat bonek-boneka itu populer serta asal muasalnya. Solusi apa yang harus diambil untuk menjaga anak-anak dari pornografi sangat sedikit, padahal boneka-boneka itu diundang dalam rangka mengangkat topik pornografi terhadap anak-anak, dimana televisi merupakan salah satu media yang sering dipersalahkan karena visualnya.

Saya pikir, di acara itu akan dicari solusi melalui cara-cara yang unik, misalnya bagaimana Unyil, Tongki, Susan dan Si Komo mengartikan pornografi dan menghindarinya. Yang ada hanya Kak Seto yang berusaha memberikan tips yang sebetulnya sudah sering disampaikan di media-media. Akhirnya kembali lagi seperti pada tulisan-tulisan saya di blog ini sebelumnya, bahwa jangan percayakan pendidikan anak Anda kepada Televisi, LSM atau Pihak Lain. Pendidikan, pengawasan, perlindungan anak-anak Anda, ada di tangan Anda sendiri.

Read More ..

06 Maret 2008

Presenter Berita Ralph Tampubolon Terasa Mengganggu Saat Membacakan Berita

Sebagai televisi yang cukup konsisten menayangkan berita-berita terkini, Metro TV punya posisi penting dalam menyebarkan informasi yang akurat, berimbang dan jelas.

Yang saya maksud JELAS, bukan hanya dari sisi fakta beritanya, tetapi juga dari sisi penyampaian atau presentasi si pembaca berita atau News Presenter.

To the point saja, saya sangat terganggu dengan cara Ralph Tampubolon membacakan berita. Dalam membaca, dia terdengar 'kumur-kumur', tidak ada intonasi dan sangat datar, sehingga berita penting menjadi tidak berarti bila dibacakan oleh Ralph Tampubolon. Dengan mulut yang tidak 'membuka' saat bicara, memang akan terdengar kumur-kumur. Ditambah lagi mimik wajahnya yang kaku dan tidak ada empathi dalam membacakan berita yang tragis.

Bung Andy Noya dan Bung Makroen, coba Anda evaluasi lagi performa ybs, karena pada malam hari masih cukup banyak yang menunggu berita Headline News-nya MetroTV. Kalau tidak bisa di evaluasi, ya di evakuasi saja. Terima kasih.

Read More ..

05 Maret 2008

Awas Ada TV Monoton Indonesia

Saya senang-senang saja jika banyak stasiun televisi bermunculan di daerah, melengkapi stasiun televisi "nasional" yang telah ada. Saya pikir, toh yang diuntungkan adalah masyarakat. Kita menjadi banyak pilihan, ragam dan referensi dari program-program yang ditayangkan.

Namun, melihat trend kepemilikan perusahaan televisi ada pada tiga atau empat orang atau perusahaan besar, maka saya pesimis masyarakat akan diuntungkan. Yang ada malah mereka mengambil keuntungan dari masyarakat terlalu banyak.

Lihat apa yang mungkin terjadi apabila 2 atau 3 stasiun televisi dimiliki oleh seseorang atau sebuah grup perusahaan :
1. Pembatasan karier atau kesempatan kerja untuk level eksekutif. Lihat tulisan saya sebelumnya tentang para eksekutif TV di Indonesia.
2. Terjadi persamaan selera karena SDM-nya terbatas pada kelompok mereka.
3. Terjadi keseragaman kebijakan dalam pengambilan keputusan dan sikap politik.
4. Saling tukar atau saling relay program (kadang semacam TV Pool).
5. Grup besar biasanya mengontrak artis eksklusif hanya untuk stasiun televisi grup mereka.
6. Yang lebih lucu lagi, identitas grafis pun bisa jadi mirip. Lihat antara antv dengan tvOne?

Mungkin masih ada banyak yang lainnya, Anda mau menambahkan?

Paradigma Sama
Sejauh yang saya amati, paradigma penyusun program televisi di negeri kita, masih mengikuti 'daily lifestyle' masyarakat pada umumnya. Misal, jam 10 untuk Ibu, jam 15 untuk anak-anak/reamaja, petang buat keluarga, tengah malam buat pria dewasa. Lalu acara mimbar agama Islam hari Jum'at, mimbar agama Kristen hari Minggu, ya kurang lebih seperti itulah yang terlihat dari susuanan acaranya sehari-hari.

Bagi saya, menyusun program televisi atau memilih acara apa untuk ditempatkan jam berapa, bukanlah persoalan salah atau benar. Itu lebih kepada selera, kepentingan, pengalaman, wawasan dan latar belakang pergaulan serta kreatifitas sang programmer. Selain mematuhi peraturan dan etika yang berlaku tentunya.

Selama paradigma penyusun program masih seperti diatas, maka siap-siaplah akan datangnya TV Monoton! Monoton karena sinetron dan dangdut adalah kepercayaan mereka dalam mendongkrak rating. Monoton karena berita yang ditayangkan adalah kebijakan dan sikap politik yang sama. Monoton karena 'looks' di layar kaca mirip-mirip semua, baik artisnya maupun design grafis-nya. Ya, pokoknya kita waspada akan datangnya TV Monoton Indonesia.

Read More ..

03 Maret 2008

Pornografi di TV Tidak Sebatas Gambar Paha atau Dada Semata Lho!

Yang sering dimaksud pornografi diacara-acara televisi adalah gambar paha, dada, adegan mesum dan hubungan suami istri. Itu karena orang hanya melihat media Televisi dari sisi Visual. Padahal, unsur Audio di Televisi juga sangat penting. Audio bukan hanya pendukung visual, tetapi kadang-kadang dapat berperan sendirian, tanpa ada hubungannya dengan visual, seperti halnya Radio.

Ingat, pikiran (mind) manusia melalui pendengarannya, dapat menimbulkan daya khayal atau imajinasi yang jauh lebih kuat dan kadang (extremly) nyata dari pada sebuah gambar! Apalagi jika membayangkan kata-kata atau kalimat mesum!

Saya sering menemui dibeberapa episode acara TV, seperti acaranya Tukul "Empat Mata", acara gossip show "Insert" atau acara-acara lawakan dan pelesetan, pembawa acara "kepeleset" (kalau tidak mau disebut "sengaja" agar lucu), menyebutkan kata-kata mesum yang mengandung persepsi pornografi. Misalnya, "Si artis berteriak saat melahirkan, tetapi teriakannya beda dengan saat membuatnya...", atau "Pisang saya warna coklat...", atau "Belalai depannya" dan lain sebagainya. Memangnya penonton akan terus dibilang bodoh dengan pikirannya yang selalu kearah pornografi saat mendengar kata-kata dimaksud? Siapa yang pikirannya porno dan menjualnya untuk mencari keuntungan? Yang lebih parah, kadang ditimpali juga oleh bintang tamu atau diantara mereka yang berada di studio!

Ya, otak manusia. Itulah kuncinya. Sangat dahsyat! Otak itu langsung menggambarkan secara ekstrim dari apa yang didengarnya. Itulah mengapa suara desahan (misalnya : ehmm.. ayo dong mas...ehmm) lebih terasa seksi tergambar di otak pada saat Anda memejamkan mata, padahal di layar televisi, yang mendesah adalah Tessy Srimulat!

Nah, melalui sekelumit contoh diatas, semoga para pengisi acara apapun di TV manapun, dapat menjaga bicara (mulut) dan pikiran. Kebiasaan bercanda dengan crew dibelakang panggung, jangan sampai terbawa di layar televisi. Itulah arti profesional. Bukan hanya ketepatan waktu, bayaran atau honor yang besar seseorang disebut profesional!

Read More ..

02 Maret 2008

Zona 80 Untuk Mengobati Rindu Tahun 80-an

Satu lagi acara pelepas rindu orang-orang tahun 80-an, selain melalui komunitas tahun 80-an, atau mendengarkan lagu-lagu dari CD tahun 80-an. Mulai Maret 2008 ini, Metro TV menyiarkan acara "ZONA 80". Acara tersebut disiarkan setiap hari Minggu, mulai jam 22.05, dipandu pembawa acara Krisna Purwana (pleawk dan penyiar kondang waktu itu) dan Windy Wulandari (mungkin ini anak muda tahun 2000-an, yang akan bertanya ini itu tentang tahun 80-an).

Pada episode pertama, ditampilkan penyanyi Deddy Dhukun, Iis Soegianto dan Ikang Fawzi. Mereka membawakan lagu-lagu hits 80-annya. Ada juga Sys NS yang menjadi ikon kreatif 80-an melalui grup lawak Sersan Prambors dan event BOM (Bursa Orang Muda) waktu itu.

Apakah acara ini dapat melepas rindu untuk orang-orang tahun 80-an?. Mungkin saja, tetapi yang jelas, acara ini memang cocok dengan segmen Metro TV yang rata-rata para pemerhati berita dan informasi terkini.

Acara pelepas rindu seperti ini juga pernah ada di Indosiar dengan nama "Tembang Kenangan", bedanya, Indosiar lebih terfokus hanya pada lagu-lagu memory atau oldies, yang bukan hanya 80-an tetapi juga lagu-lagu dari genre 60-an. Sedangkan porsi waktu diacara "Zona 80" terbagi seimbang antara lagu-lagu hits 80-an dan informasi hal-hal yang pernah populer di tahun 80-an.
Semoga Rumah Produksi yang membuat acara ini tidak kehabisan materi 80-annya, karena kalau mau di explore, era 80-an itu sangat luas. Kan 80-an bukan hanya milik orang-orang Jakarta?

Ini tantangan bagi produser acara tersebut, jika sempit wawasan dan pandangan tentang era 80-an, maka dalam 10 episode saja acara ini akan selesai. Terima kasih.

Read More ..