29 September 2009

KPI Himbau Metro TV, ANTV dan TV One

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Senin (28/9) kemarin memberikan surat himbauan kepada TV One, Metro TV dan ANTV atas tayangan yang sering ditampilkan beberapa waktu terakhir mengenai perebutkan kursi jabatan Ketua Umum Golkar.Dalam suratnya, KPI Pusat mengingatkan tentang pasal-pasal dalam UU Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) yang secara jelas mengatur bahwa isi siaran wajib dijaga netralisasinya dan tidak boleh mengutamakan kepentingan golongan tertentu. Karena itu sangatlah penting bagi stasiun televisi untuk tidak mencampuradukkan kepentingan golongan dan kepentingan penyiaran.

Read More ..

20 September 2009

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1430 H.

Minal Aidin Walfaidzin

Mohon Maaf Lahir dan Bathin




Moderator Blog Dunia TV

Read More ..

17 September 2009

Ketika Ramadhan, Porsi Program Hiburan dan Religi Lebih Besar

Komedi Saatnya Kita Sahur (Trans TV) menjadi program yang paling banyak ditonton oleh pemirsa saat sahur. Kemudian disusul Para Pencari Tuhan Jilid 3 (drama seri di SCTV), USC: FC Barcelona vs Shakhtar (olahraga di RCTI), dan Opera van Java (variety show di Trans7). Sepanjang hari selama bulan Ramadhan, porsi tayang program hiburan dan religi di televisi lebih besar dibandingkan sebelumnya, bertambah 3 persen menjadi 27 persen dari total jam tayang sehari.

Demikian hasil penelitian yang dipaparkan Hellen Katherina, Associate Dorector Marketing & Client Service AGB Nielsen Media Research, kepada pers di Jakarta, pekan lalu di Jakarta. Kenaikan itu terutama dikontribusi oleh ragam hiburan yang disiarkan saat sahur. "Bertambahnya durasi tayang dibarengi dengan bertambahnya durasi menonton program hiburan menjadi rata-rata 21 menit per hari saat sahur," katanya.

AGB Nielsen Research melakukan survei kepemirsaan televisi, dari 22 Agustus sampai 7 September, di 10 kota besar di Indonesia, yakni Jakarta, Surabaya, Medan, Semarang, Bandung, Makassar, Yogyakarta, Denpasar, dan Banjarmasin, dengan populasi sebesar 46.719/473 individu usia 5 tahun ke atas. Survei ini tidak mewakili kepemirsaan televisi seluruh masyarakat di Indonesia.

Hellen menjelaskan, porsi tayang program religi juga bertambah dari 3 persen menjadi 6 persen dari total jam tayang sehari, dikontribusi oleh tayangan saat buka . Pada saat bersamaan, porsi penonton pemirsa pun bertambah dari hanya 1 persen menjadi 4 persen dari total jam menonton per hari.

Meskipun porsi tayang program ini bertambah, seperti halnya jam menonton pemirsanya, program reality show dan sinetron masih merajai kepemirsaan TV saat buka, tandasnya . Rating lima besar tayangan saat buka adalah Take Me/Him Out Indonesia (Indosiar), Termehek-mehek (Trans TV), Cinta dan Anugerah (RCTI), Para Pencari Tuhan Jilid 3 (SCTV), dan Manohara (RCTI).

Hellen mengungkapkan, penonton televisi saat sahur (02.00-05.00) naik 10 kali lipat dalam dua minggu pertama bulan Ramadhan tahun ini. Potensi penonton tercatat mencapai 12,2 persen dari 46,7 juta orang usia 5 tahun ke atas, atau sekitar 5,7 juta orang per hari. Jumlah ini jauh lebih tinggi daripada hari-hari regular, yang potensi penontonnya hanya 1,2 persen dari populasi TV (566 ribu orang/hari). Hadirnya program-program spesial yang menemani waktu sahur pemirsa turut mendongkrak kenaikan ini.

Seniman dan pemerhati pertelevisian Asril Koto ketika diminta tanggapannya tentang program televisi yang tinggi ratingnya itu, menilai program tersebut belum menunjukkan kualitas yang diharapkan. Hanya menilai secara kuantitatif. "Padahal, mestinya selama Ramadhan program dakwah keagamaan diperbanyak," katanya.

Menurut dia, pemirsa sebenarnya mengharapkan tayangan yang mencerahkan dan mencerdaskan. Tidak seperti sekarang, yang dominan komedi atau reality show yang hanya sebatas hiburan dan tidak mencerdaskan.

Senada dengan itu, Ferli Zulhendri, pengamat media di Bandung, mengatakan, nasib pemirsa televisi seolah dipaksa menonton, dan tak ada pilihan program acara lain pada saat bersamaan (sahur dan buka puasa). Hampir semua stasiun TV menayangkan program serupa, tidak ada yang berani menawarkan program lain yang mencerdaskan pemirsanya, katanya. (Kompas)

Read More ..

13 September 2009

Stasiun TV Diminta Hati-hati Tayangkan Infotainment

Seluruh stasiun TV dihimbau supaya berhati-hati ketika menayangkan program infotainment yang mengulas perihal rumah tangga atau perceraian artis. Hal itu ditegaskan oleh KPI Pusat dalam surat himbauannya kepada semua stasiun televisi, baru-baru ini.

KPI Pusat juga menyayangkan dan mengingatkan bahwa wawancara yang dilakukan kepada anak dibawah umur mengenai persoalan rumah tangga dan perceraian orang tuanya tidak dibenarkan dan bertentangan dengan P3 dan SPS KPI.

Pasal 8 Pedoman Prilaku Penyiaran (P3) dan Pasal 17 Standar Program Siaran (SPS) menyebutkan lembaga penyiaran dalam memproduksi dan menyiarkan berbagai program dan isi siaran wajib memperhatikan dan melindungi kepentingan anak-anak. Bahkan, Pasal 46 SPS secara tegas memuat larangan terhadap lembaga penyiaran untuk mewawancari anak dan remaja di bawah umur 18 tahun mengenai hal-hal diluar kapasitas mereka untuk menjawab seperti tentang kematian, perceraian, perselingkuhan orang tua dan keluarga, serta kekerasaan yang menimbulkan dampak traumatik.

Dalam surat himbauan tersebut, KPI Pusat meminta agar semua stasiun TV tidak lagi menayangkan wawancara terhadap anak mengenai hal-hal yang sudah dijelaskan tersebut. KPI Pusat menegaskan akan memberikan sanksi jika dikemudian hari ditemukan pelanggaran terhadap ketentuan tersebut. (KPI)

Read More ..

10 September 2009

Tayangan Ramadhan di Televisi Nasional Kurang Mendidik

Kualitas siaran mayoritas televisi swasta nasional saat ini dinilai masih buruk, termasuk pada bulan Ramadhan saat ini. Tayangan-tayangan kurang mendidik justru lebih mendominasi ketimbang tayangan religi.

"Isi siaran teve di Jakarta hanya menghabiskan emosi, tetapi tidak ada nilai mendidiknya," tutur Atie Rachmiatie, Komisioner Bidang Isi Siaran Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jabar, Kamis (10/9).

Maraknya tayangan sinetron, reality show, acara kuis, dan dramatisasi fakta seperti dalam kasus penyergapan teroris di Temanggung menunjukkan buruknya mutu siaran televisi.

Menurut Nursyawal, anggota KPID lainnya, berdasarkan data laporan pengaduan dan pengawasan isi siaran, sangat jarang isi siaran di televisi lokal yang dianggap melenceng dari Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Tahun ini, misalnya, setidaknya ada 61 aduan dari masyarakat tentang isi siaran yang seluruhnya terkait televisi swasta.

Bahkan, sepanjang bulan Ramadhan ini, mayoritas televisi swasta, seperti diungkapkan Wakil Ketua KPID Jabar Haris Sumadiria, telah cenderung melakukan pendangkalan terhadap nilai-nilai keagamaan Islam. Waktu di jam-jam sahur justru lebih banyak diisi dengan tayangan bobodoran atau komedi. Bukan dengan tayangan-tayangan menyejukkan.

Terjadi kecenderungan komodifikasi tayangan Ramadhan. "Memanfaatkan momentum Ramadhan untuk bisnis sah-sah saja, tetapi kan harus mendengar pula aspirasi masyarakat yang ingin tayangan-tayangan menyejukkan," tutur Dadang Rahmat Hidayat, Ketua KPID Jabar, menambahkan.

Semestinya pada bulan Ramadhan ini tayangan-tayangan yang lebih baik dimunculkan. "Anggap saja seperti CSR (corporate social responsibility) mereka," tutur Atie kemudian.

Read More ..

Wanita, Penonton Utama TV Saat Berbuka

Pada saat jam berbuka puasa dan shalat tarawih, pemirsa televisi didominasi kaum perempuan.

Dibanding Juli 2009, berdasarkan jenis kelamin, terjadi kenaikan jumlah wanita yang menonton televisi pada pukul 16.00-18.59, 19.00, dan 20.59. Jam-jam tersebut adalah saat berbuka dan tarawih.

"Kenaikan pada saat berbuka sebesar 109 persen dan 111 persen saat tarawih," ujar Andini Wijendari, Executive AGB Nielsen Media Research di Jakarta, Kamis (10/9 ).

Pada pria, saat waktu berbuka, terjadi kenaikan sebanyak 91 persen dan saat tarawih naik sebesar 89 persen. Selain dari jenis kelamin, banyaknya wanita yang menonton televisi pada saat berbuka dan tarawih dapat dilihat dari jenis pekerjaan.

Kenaikan terbesar pemirsa televisi pada saat berbuka dan tarawih terjadi pada ibu rumah tangga. Dibanding bulan Juli, jumlah ibu rumah tangga yang menonton televisi pada pukul 16.00-18.59 dan 19.00-20.59 meningkat masing-masing sebesar 123 persen dan 132 persen.

Jumlah pemirsa pelajar menyusul dengan kenaikan 107 persen saat berbuka dan 95 persen saat sahur. Lalu, pekerja informal naik 91 persen saat berbuka dan 99 persen saat tarawih. Pekerja formal juga meningkat dari 91 persen saat berbuka dan 84 persen saat sahur. Adapun pensiunan mengalami tingkat kenaikan paling sedikit, yaitu 89 persen saat berbuka dan tarawih.

Ia memperkirakan peningkatan pemirsa wanita pada saat berbuka dan tarawih disebabkan banyaknya suplai program religi, hiburan, maupun sinetron pada jam-jam tersebut. Lebih jauh ia mengatakan, secara global terjadi peningkatan pemirsa selama bulan Ramadhan ini. Penonton televisi saat sahur dalam dua minggu bulan Ramadhan ini memiliki potensi penonton tercatat mencapai 12,2 persen dari 46, 7 juta orang usia lima tahun ke atas. Jumlah tersebut setara dengan 5,7 juta orang per hari.

"Jumlah tersebut lebih tinggi dibanding periode reguler yang potensi pemirsanya hanya 1,2 persen dari populasi atau 566.000 orang per hari," ungkapnya.

Adapun pada saat berbuka, kata Andini, juga terjadi peningkatan, meski jumlahnya tidak terlalu fantastis. Pemirsa saat berbuka naik dari 17 persen menjadi 19,8 persen atau setara dengan 8,8 juta orang per hari.

Read More ..