23 Maret 2008

TV Lokal Sebaiknya Hindari Paradigma Lama

Dalam penyusunan program, khusunya untuk stasiun televisi lokal, sebaiknya hindari penyusunan program atau format acara yang berdasarkan pemikiran atau paradigma lama.

Yang saya maksud "paradigman lama" adalah "berpikir seolah-olah televisi ini adalah satu-satunya stasiun televisi di kota ini", sehingga perlu merangkul seluruh lapisan masyarakat untuk mendapatkan jumlah penonton sebanyak-banyaknya. Rating hah?! No way!

Maaf, bukan mau menggurui, biasanya dengan pola pikir seperti itu, akan menggiring kita masuk ke wilayah 'daily lifestyle audience' sehari-hari. Ujung-ujungnya, sang programmer merasa sudah kreatif dengan menambahkan kata "Keluarga" dalam slogan stasiun TV-nya.

Keluarga, artinya maka mau tak mau harus ada acara untuk anak, remaja, kaum ibu, kaum bapak, pembantu, kaya miskin dan lain sebagainya. Pemikiran itu adalah pemikiran semua programmer TV di Indonesia saat ini.

Saat sekarang, berpikir seperti itu sama dengan membendung kreatifitas dan hanya mengikuti air mengalir! Dapatkan air melawan arus? Dapatkah air mengalir naik?

Cara pandang seperti itu akan lebih parah jika jatuh pada seorang prgrammer stasiun TV lokal, yang notabene TV tersebut adalah milik masyarakat setempat dimana stasiun tersebut berada.

Tapi, saya juga bukan hendak mengatakan bahwa stasiun TV lokal adalah stasiun TV tradisional atau fokusnya pada acara-acara budaya lokal dengan bahasa daerah melulu. Tidak, bukan itu! Menurut saya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menemukan jati diri baru sebagai sebuah stasiun TV lokal. Ketajaman format, fokus program dan susunan acara sehari-hari, bisa berada pada satu hal, dua hal, mix antara satu hal dengan hal lainnya dan lain-lain.

Saat ini cukupmudah mencari penyedia 'content' gratis, yang cocok dengan format program yang hendak dituju, asalkan sudah ada arah dan tujuan yang "beda" dengan yang sudah ada.

Ingat, TV lokal bukanlah satu-satunya stasiun TV yang akan ditemui oleh masyarakat daerah setempat. TV lokal tetap bersaing di daerah tersebut dengan TV 'nasional' yang sudah lebih dulu eksis. Itu harus dipikirkan oleh pengelola stasiun TV. Jangan berdalih dengan lemahnya modal dan jangkauan atau rating.

Magnit daya tarik TV Anda, ada di salah satu sudut kepala Anda! Temukan! Saya tunggu!

6 komentar:

Anonim mengatakan...

Kayaknya terlalu jauh deh pemikiran seperti itu bagi para SDM TV di Indonesia. Mereka kebanyakan meniru aja apa-apa yang lagi rame. Ya kan?

Anonim mengatakan...

Hidup Dunia TV, kapan-kapan boleh dong saya undang ke kantor saya bung? Bisa kan memberikan pencerahan untuk crew TV lokal saya?

Terima kasih.

Bambang Utojo
BTMTV

saifudinhidayat mengatakan...

ingin pencerahan batin klik ok

Anonim mengatakan...

Setuju !!! TV-TV memang harus banyak belajar lagi booooooo...

Anonim mengatakan...

TV Indonesia masih harus banyak belajar lagi dengan TV-TV luar terutama TV Eropa

Anonim mengatakan...

yang jelas, membangun sebuah stasiun televisi lokal itu tidak mudah, buktinya UU sudah bilang kalau stasiun tv nasional kecuali TVRI harus membangun tv lokal dengan sistem jaringan, tapi ogah tuh... kenapa? karena gak ada duit masuk dan gak bisa bersaing dengan tv lokal.

Jadi jangan remehkan tv lokal, karena tv lokal dibangun oleh orang-orang yang memiliki idealisme tinggi untuk membangun daerahnya. Beda dengan stasiun tv yang katanya nasional tapi gak punya semangat nasionalisme dan hanya menjadi alat dari antek-antek neo kapitalis imprealis!

trims
Arul