05 Oktober 2008

Metro TV : Komedi di Depan Mesin Kopi

Harian Kompas menulis : Hanya mengandalkan satu kamera statis, lahir sebuah sinetron komedi (sitkom) yang ringan dan menarik. Inilah terobosan MetroTV melalui program ”Camera Cafe”. Dibandingkan sitkom yang lain, ”Camera Cafe” benar-benar berbeda. Sinetron itu menggunakan kamera statis dengan sudut pengambilan gambar hanya dari depan atau dari arah pemirsa. Seluruh pemain dalam sitkom ini pun menghadap lurus ke arah kamera yang diandaikan berada di atas mesin kopi (coffee machine). Kamera statis ini seolah mewakili mata pemirsa yang merekam semua adegan di depannya. Setting sitkom ini juga minimalis. Hanya sebuah ruang istirahat di depan mesin kopi di sebuah kantor. Semua peristiwa berpusat di sini ketika karyawan istirahat sejenis sambil menikmati kopi dan berbicang-bincang. Karena hanya menggunakan satu kamera statis dan setting tunggal, cerita sitkom ini harus kuat, aktornya harus berkarakter, dan pembuatnya harus kreatif dalam mengambil gambar. Mari kita tengok bagaimana elemen-elemen tersebut bisa digarap dalam ”Camera Cafe”.

Jalinan cerita dalam ”Camera Cafe” dibuat sesederhana mungkin. Tema yang diangkat berkisar hubungan bos dan anak buahnya, gosip kantor, dan cerita cinta kantor. Pada episode 22 September diceritakan, sang bos meminta sekretarisnya membelikan pot bunga. Pada adegan lain, si sekretaris mengeluhkan perintah bosnya ini ke rekan kerjanya, John (Andre Stinky). John yang dikenal playboy menawarkan diri kepada sang sekretaris untuk membelikan pot bunga tersebut.

Pada adegan yang lain, John bercerita kepada Harvey (Auie) bahwa dia akan membeli pot untuk si bos. Harvey mengingatkan bahwa pot bunga harganya bisa mencapai Rp 500.000 per buah. John kaget. Adegan selanjutnya, John bertemu Sulaeman (Fahmi Bo). Dia merayu Sulaeman untuk investasi bisnis pot. Nanti, pot itu akan dijual kepada bosnya. Pada adegan penutup, Harvey membeli pot dan menyerahkan kepada bosnya. Si bos berterima kasih, memujinya, dan mengganti biaya pembelian pot seharga Rp 500.000. Selanjutnya, John dan Sulaeman datang menggotong pot dan menyerahkannya kepada si bos. Si bos menatapnya acuh dan berkata, ”Saya tidak butuh pot.” Semua adegan dibungkus dalam situasi komedi.

Meski ceritanya tidak memiliki kedalaman, pembuat ”Camera Cafe” tidak terjebak pada komedi konyol yang hanya memancing tawa dengan mengolok-olok kekurangan fisik orang lain.

Bagaimana pengambilan gambar dengan kamera statis tidak membuat jemu penonton? Pembuat ”Camera Cafe” menyiasati keterbatasan itu dengan memecah cerita dalam beberapa adegan. Masing-masing adegan dipisahkan dengan bumper, semacam penanda peralihan dari satu adegan ke adegan lain. Dalam sitkom ini, bumper tersebut berupa gambar kucuran kopi ke dalam cangkir bertuliskan ”Camera Cafe”. Teknik ini membuat cerita tampak bergerak dan tidak membosankan.

Pembuat sitkom juga memvariasikan cara pengambilan gambar dengan teknik close up, medium close up, hingga long shot. Dengan cara ini, gambar yang muncul tidak membosankan. Durasi sitkom juga dibuat pendek. Setiap episode hanya berlangsung selama 3 menit hingga 5 menit.

Production Manager MetroTV Agus Mulyadi, Kamis (25/9), mengatakan, pihaknya memaksimalkan blocking pemain. ”Karena setting sinetron ini hanya di dalam sebuah ruangan, kami mengatur blocking pemain sedemikian rupa. Mereka keluar masuk bergantian dari arah yang berbeda,” kata Agus. Selain itu, dia benar-benar menyeleksi ketat para pemain. ”Kami sadar sitkom semacam ini hanya bisa berhasil jika aktornya bagus,” ujarnya.
Meski aktingnya tidak bagus-bagus amat, para pemain ”Camera Cafe” bisa bermain dengan cukup wajar. Setidaknya, mereka tidak sekadar memelototkan mata ketika mengekspresikan kemarahan seperti yang lazim dilakukan kebanyakan pemain sinetron karbitan. Agus menjelaskan, program ini adalah versi Indonesia dari acara serupa yang ditayangkan di Channel M6, Perancis. Acara ini telah dibuat dalam beberapa versi di 25 negara, termasuk di Thailand dan Filipina. Acara yang ditayangkan tiga kali sehari (pukul 08.55, 14.27, dan 20.55), menurut Agus, mendapat respons yang baik dari penonton. ”Pemirsa kaget melihat sitkom seperti ini di MetroTV.” Dia berharap ”Camera Cafe” bisa memberi warna lain pada stasiun yang kesannya serius ini.

7 komentar:

Antonius Bram mengatakan...

oh, acara serupa pernah saya tonton di TV5 Le Monde melalui parabola di rumah saya. semoga nanti juga ada sinetron yg terinspirasi dari Home & Away, Prison Break atau Lost biar tidak seperti cerita 'wanita ini suka dengan pria itu tapi wanita jahat selalu berusaha menjauhkan hubungan mereka' yang selalu diulang-ulang di setiap sinetron.

Anonim mengatakan...

acara 'Broken News' di BBC Entertainment juga nggak kalah menarik. kalo diadopsi sama Metro pasti seru soalnya Metro kan sangat mengandalkan berita sementara Broken News adalah acara sitkom tentang berita-berita yg nggak jelas dan dipotong-potong. lumayan buat nyindir stasiun TV lain yang suka motong-motong acara berita buat iklan doang.

Kusnadi HJ mengatakan...

Ternyata TV kita baru sampe jiplak menjiplak saja, terserah mau beli atau tidak, tetapi kreatifitas orang-orang TV kita mandeg!

Indonesian Dreaming mengatakan...

Kalau meniru sesuatu yangbaik-baik, saya kira sah-sah saja, asal jangan melupakan hak-hak itelektual yang menciptakannya duluan.

Anonim mengatakan...

saifudin coment:

Anonim mengatakan...

saifudinhidayat

Anonim mengatakan...

Metro TV memang resmi beli copyright camera cafe dari negara prancis , kalo langsung disadur asli-asli dari sononya gak bakalan lucu kalo di indonesiakan, makanya para kreator (ANP-Aris Nugraha Production team- Kreator BAJAJ BAJURI dulu) mengambil ide cerita asli yg diadaptasi ke kultur indonesia,itupun perjanjiannya 50% ide cerita prancis 50% ide murni anak bangsa, dalam kenyataannya hampir semua CC yg tanyang di Metro itu hasil ide murni anak bangsa, beberapa yg sudah di buat dari ide aslinya adalah cerita handpone genggam kembar dengan boss, dan premium call dan ini sudah di kondisikan dengan selera humor kita di indonesia.