22 Oktober 2008

Salah Urus, MQTV Akhirnya Rontok

Berita dari TRIBUN Bandung : MQTV, unit usaha bisnis milik pemimpin Pondok Pesantren Daarut Tauhid KH Abdullah Gymnastiar akhirnya rontok akibat mismanajemen. Meski begitu, stasiun televisi yang dipancarluaskan dari Gegerkalong itu masih tetap mengudara dengan siaran terbatas. Pengelola MQTV telah memberhentikan 63 karyawan di berbagai unit kerja sejak beberapa bulan lalu. Kini persoalan pesangon masih membelit perusahaan tersebut karena hingga bulan lalu penyelesaian hubungan perburuhan belum beres. Direktur Utama MQTV Dudung Abdul Gani SE berjanji akan membayar pesangon 63 mantan karyawan MQTV pada hari Selasa (28/10). "Tidak akan ada penundaan lagi. Semua utang MQTV kepada mantan karyawan akan dibayarkan semua," kata Dudung di kantornya, Selasa (21/10).

Selain penyelesaian hubungan perburuhan ini, MQTV telah memiliki rencana jangka panjang untuk menyelamatkan eksistensi stasiun televisi tersebut. Pada bulan Januari 2009, MQTV akan mengubah konsep dari televisi komersial menjadi televisi umat. Artinya, televisi ini akan mengikutsertakan masyarakat dalam pengelolaannya. "Kami akan berikan siaran yang baik, dan kami berharap masyarakat akan bersimpati lalu membantu dengan memberikan bantuan dana," kata Dudung. Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun dari sejumlah eks karyawan yang kemarin berkumpul di kompleks stasiun MQTV, kolapsnya MQTV berawal ketika KH Abdullah Gymnastiar atau yang populer dipanggil Aa Gym terungkap melakukan poligami.

MQTV-Aa Gym tak bisa dipisahkan karena konseptor dan unit usaha ini berada di bawah payung korporasi yang didirikan Aa Gym. Sejak kasus itu mencuat, ada penarikan besar-besaran dari para investor dan pemasang iklan. Keuangan perusahaan pun limbung dan operasional mulai terganggu. Pembayaran gaji tersendat, hingga terjadi pemotongan.

Pergeseran konsep menyusul perombakan manajemen di level strategis juga dinilai jadi faktor yang sangat menentukan ambruknya televisi yang awalnya berkonsep dakwah ini. Faktor berikutnya, manajemen MQTV tidak fokus dalam mengelola usaha. Sebab, selain mengelola MQTV, manajemen puncak juga mengelola kelangsungan empat unit usaha di bawah MQTV. Di antaranya usaha MQ Production House (PH), MQ Animasi, dan MQ IT. Di saat MQTV mengalami kesulitan, sub-usaha itu tak bisa membantu. "MQTV tidak fokus karena harus mengurusi unit usaha yang lain," kata seorang mantan karyawan yang enggan disebut namanya.
Setelah kesulitan keuangan, MQTV mengandalakan uang tagihan yang belum terbayarkan seluruhnya oleh mitra MQTV. Sumber lainnya adalah sisa pendapatan saat Aa Gym masih berjaya.

Menanggapi penilaian eks karyawan tentang sebab-sebab ambruknya MQTV, Dudung Abdul Gani membantah ada kaitannya dengan Aa Gym. Posisi MQTV, menurut Dudung, independen meski dipayungi Daarut Tauhid. Kedudukan Aa Gym, kata Dudung, hanyalah sebagai penasihat.
"Harus dibedakan antara Aa Gym dengan MQTV," kata Dudung. Dalam versinya, MQTV mengalami kemunduran karena sebagai televisi lokal belum kuat secara finansial dan sulit mencari sponsor. Kemungkinan lainnya karena manajemen MQTV belum baik. Ia tak mengatakan kesulitan keuangan MQTV karena dampak Aa Gym melakukan poligami. Meskipun mengalami kesulitan, MQTV tetap melakukan siaran terbatas.

Tidak ada komentar: