27 Agustus 2008

Cerita Tentang Para Petinggi Aora TV

Dari Mediacare di email saya : Sederet nama beken berada di balik Aora TV. Selain kakak-adik Rini Mariani Soemarno dan Ongky Soemarno, pengelola televisi berbayar baru itu digawangi Jeffry Geovanie dan Solihin Kalla, putra Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Aora TV, yang berada di bawah naungan PT Karyamegah Adijaya, akhir-akhir ini ramai jadi gunjingan gara-gara berhasil mengambil alih hak siar eksklusif tontonan sepak bola Liga Inggris 2008-2009 dari PT Direct Vision, yang selama ini menayangkannya di Astro TV. Hak siar internasional lain yang bisa dikantonginya adalah Olimpiade Beijing 2008. Berkat modal ini, Aora TV mengklaim telah berhasil menggaet 2.000 pelanggan, meski umurnya belum sebulan. Rini Soemarno, Menteri Perindustrian dan Perdagangan di kabinet Megawati, disebut-sebut motor utama Karyamegah. Bersama kakaknya, Ongky Soemarno, bekas Presiden Direktur Astra International itu mengendalikan penuh Karyamegah. Jejaknya di Karyamegah berawal dari langkah akuisisi oleh PT Arono Internasional. Perusahaan yang didirikan Rini dan Ongky ini membeli 95 persen saham Karyamegah pada September 2007. Adapun sisa saham 5 persen dimiliki Indonesia HGC Telecommunication. "Ada Jeffry Geovani, ada juga Solihin," kata Rini saat ditemui Tempo di kantornya pada Kamis lalu.

Jeffry Geovani adalah Wakil Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pengurus Pusat Muhammadiyah, yang sempat bergabung dengan tim sukses calon presiden Partai Golkar untuk Pemilihan Umum 2009. Sedangkan Solihin yang dimaksud adalah Solihin Kalla, anak bungsu Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang disebut-sebut putra mahkota bisnis keluarga Kalla. Keduanya mengendalikan Indonesia HGC Telecommunication. Jeffry sebagai direktur utama, sedangkan Solihin komisaris utama. Rini menceritakan, sebelum Arono mengambil alih 95 persen saham Karyamegah, pembicaraan awal dengan pemilik lama dilakukan oleh Indonesia HGC. "Mereka yang melakukan komunikasi," katanya. Menurut sumber Tempo di Komisi Penyiaran Indonesia, Jeffrey dan Solihin memang aktor utama lahirnya Karyamegah sebagai televisi berbayar. Sebab, meski didirikan pada November 2006, Karyamegah awalnya tak bermaksud menjadi penyelenggara televisi berbayar. "Nama keduanya disebut-sebut ketika Karyamegah mengajukan rekomendasi kelayakan," ujarnya. Namun, Solihin tak pernah tercantum dalam akta perusahaan.

Berdasarkan akta notaris pendirian perusahaan pada 29 November 2006, Karyamegah, yang bermodal dasar Rp 1 miliar, dimaksudkan menjadi perusahaan perdagangan, pengadaan, waralaba, pengembang pembangunan, garmen, pelayanan hukum dan pajak, serta jasa kebersihan. Nama Jeffry baru muncul dalam akta notaris Karyamegah tertanggal 21 Februari 2007, soal keputusan pemegang saham sehari sebelumnya yang mengangkatnya sebagai direktur utama. Jeffry belakangan lengser berbarengan dengan berubahnya haluan perusahaan menjadi penyelenggara siaran televisi berlangganan melalui satelit per 13 Maret 2007. Jeffry mengakui Indonesia HGC kini menguasai 5 persen saham Karyamegah. Namun, dia membantah anggapan bahwa perusahaannya yang pertama kali berkomunikasi dengan Karyamegah. Ia pun menyangkal jika disebut pernah menjabat posisi puncak di Karyamegah. "Nama panjangnya saja saya tidak tahu," ujarnya. Menurut dia, investasi Indonesia HGC di Karyamegah dilakukan atas ajakan Rini. Bahkan awalnya Rini menawarkan 20 persen kepemilikan saham, tapi tak diambil dengan pertimbangan diversifikasi investasi. "Kami masuk satu bulan setelah Arono mengambil alih Karyamegah," ujarnya.

3 komentar:

Anonim mengatakan...

Walah, ternyata dia-dia aja toh???

komentator{amatir} mengatakan...

Walah,ternyata dia dia aja toh???yang komentar

Indonesian Dreaming mengatakan...

Baguslah kalau masih ada nama-nama lain selain Harry Tanoe, Bakrie atau Chairul Tanjung. Minimal masih ada harapan, industri TV di tanah air tidak dimonopoli oleh segelintir orang saja